Menurut cho d.s (1995), secara keseluruhan perusahaan bisnis korea menekankan pada aspek berikut:
1.Keselarsan antar manusia, kesatuan kerjasama, pengabdian, ketekunan, keaslian, kreativitas dn pembngunan menyeluruh.
2.Kejujuran, kepercayaan, efisiensi, kualitas dan tanggung jawab. Sebaliknya, rasionalitas, manajemen ilmiah dan pelayanan bagi para pelanggan merupakan nilai-nilai yang kurang mendapatkan penekanan. Nilai-nilai ini sanggatlah berlawanan dengan nilai-nilai yang dipegang perusahaan barat yang menekankan pada originalitas, pengembangan, pelayanan terhadap pelanggan dan tanggung jawab sosial sebagai ideologi manajemen unggul.
Pada umumnya perusahaan-perusahaan bisnis korea menekankan pertumbuhan dan stabilitas sebagai tujuan manajemen mereka. Hingga tahun 1970-an pertumbuhan mendapatkan prioritas melebihi stabilitas, profitabilitas dan tujuan-tujuan lain. Baru pada tahun 1980-an, stabilitas dianggap lebih penting daripada pertumbuhan. Perubahan ini dapat dijelaskan dengan pengalaman berbagai kesulitan pahit disebabkan oleh berbagai ekspansi bisnis yang berlabihan pada tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an.
Menurut penulis, tujuan manajemen bisnis korea ke arah stabilitas perusahaan termasuk pada orientasi jangka panjang. Hal ini dilakukan karena perusahaan bisnis korea belajar dari pengalaman bahwa stabilitas perusahaan memberikan pengalaman yang berharga jika dibandingkan dengan pertumbuhan dan profitabilitas.
Jika kondisi ekonomi suatu negara tidak stabil (misalnya terjadi inflasi) maka tidak berdampak besar bagi perusahaan yang memiliki orientasi jangka panjang. Lain halnya jika orientasinya hanya untuk mengejar keuntungan atau penulis namai dengan orientasi jangka pendek. Jika orientasinya jangja panjang maka tidak ada jaminan stabilitas bisnis, karena jika kondisi ekonomi suatu negara terjadi inflasi maka, kondisi bisnis akan mudah hancur
Sunday, June 26, 2016
lingkungan kerja orang korea
Lain lubuk lain belalang, lain negara pasti juga lain kebiasaan orang-orangnya. Kira-kira begitu maksud pribahasa tersebutuntuk menggambarkan keragaman antar daerah. Cara kerja dan lingkungan kerja dikorea selatan tentu berbeda dengan diindonesia. Berikut ini adalah beberapa kebiasaan orang korea selatan di lingkungan kerja.
Pertama, mereka pekerja keras, disiplin, sigap dan berusaha menunjukkan integritas kinerjanya. Karenanya orang korsel tak segan-segan berlaku keras dan kasar terhadap karyawan demi kedisiplinan kerja tak jarang pula banyak karyawan yang sering dimarahi dengan kata-kata kasar, bahkan dengan memegang dan mendorong kepala. Hal ini sanggat biasa terjadi disana. Namun setelah marah, orang korea ini tidak akan menyimpan dendam, persoalan cukup berhenti ketika usai marah. Umumnya mereka kembali baik dan pekerjaan pun kembali berlanjut.
Kedu, terkit dengan hubungan antara atasan (bos) dengan bawahan, kesopanan wajib dijaga. Orang korsel jarang sekali melanggar aturan yang dibuat oleh bos, mereka selalu enaatinya, bekerja sigap, cepat dan menunjukka kerja baik.
Hal penting lainnya di lingkungan kerja adalah mengakui kesalahan dengan sportif lalu meminta maaf langsung ketika melakukan kesalahan tanpa dibumbui dengan banyak alasan. Orang korsel tidak menyukai orang yang tidak sportif dan banyak alasan.
Ketiga, seperti negara timur kebanyakan, korsel juga masih menjaga etika kesopanan dan budayaan. Selain menghormati antara atasan dan bawahan, dan saling membantu antar senior dan junior itu wajib hukumnya. Bentuk rasa penghormtan orang korsel salah satunya adalah dengan memberi salam dan membungkukan badan 45 derajat ketika bertemu.
Soal etika, kebiasaan orang korsel adalah menerima sesuatu dengan kedua tanggan begitu pula dengan memberikan sesuatu ke orang harus menggunakan kedua tanggan. Jangan lupa ketika menerima sesuatu ucapkan terima kasih.
Fakta lainnya tentang kebiasaan orang korsel adalah soal minuman keras atau minuman beralkohol. Orag korsel baik laki-laki dan perempuan sangat terbiasa menengak minuman beralkohol dalam acara tertentu. Masih terkait dengan korsel dan minuman beralkohol. Orang korsel biasa pergi minum ke cafe atau bar bersama temsn untuk melepas stres. Bagi orang korsel, seseorang yang diajak minum hingga mabuk sudah dianggap sebagai teman. Sehingga rahasia diantara mereka aman karena ada rasa saling percaya antar teman.
Kebiasan orang korea dilingkungan kerja adalah tidak merokok di sembarang tempat. Bagi mereka, tidak sopan merokok didepan orang tua, atau ditempat umum. Jika merokok mereka akan memilih tempat yang tida termasuk kategori tersebut dan tempat lainnya yang ada larangan merokok.
Pertama, mereka pekerja keras, disiplin, sigap dan berusaha menunjukkan integritas kinerjanya. Karenanya orang korsel tak segan-segan berlaku keras dan kasar terhadap karyawan demi kedisiplinan kerja tak jarang pula banyak karyawan yang sering dimarahi dengan kata-kata kasar, bahkan dengan memegang dan mendorong kepala. Hal ini sanggat biasa terjadi disana. Namun setelah marah, orang korea ini tidak akan menyimpan dendam, persoalan cukup berhenti ketika usai marah. Umumnya mereka kembali baik dan pekerjaan pun kembali berlanjut.
Kedu, terkit dengan hubungan antara atasan (bos) dengan bawahan, kesopanan wajib dijaga. Orang korsel jarang sekali melanggar aturan yang dibuat oleh bos, mereka selalu enaatinya, bekerja sigap, cepat dan menunjukka kerja baik.
Hal penting lainnya di lingkungan kerja adalah mengakui kesalahan dengan sportif lalu meminta maaf langsung ketika melakukan kesalahan tanpa dibumbui dengan banyak alasan. Orang korsel tidak menyukai orang yang tidak sportif dan banyak alasan.
Ketiga, seperti negara timur kebanyakan, korsel juga masih menjaga etika kesopanan dan budayaan. Selain menghormati antara atasan dan bawahan, dan saling membantu antar senior dan junior itu wajib hukumnya. Bentuk rasa penghormtan orang korsel salah satunya adalah dengan memberi salam dan membungkukan badan 45 derajat ketika bertemu.
Soal etika, kebiasaan orang korsel adalah menerima sesuatu dengan kedua tanggan begitu pula dengan memberikan sesuatu ke orang harus menggunakan kedua tanggan. Jangan lupa ketika menerima sesuatu ucapkan terima kasih.
Fakta lainnya tentang kebiasaan orang korsel adalah soal minuman keras atau minuman beralkohol. Orag korsel baik laki-laki dan perempuan sangat terbiasa menengak minuman beralkohol dalam acara tertentu. Masih terkait dengan korsel dan minuman beralkohol. Orang korsel biasa pergi minum ke cafe atau bar bersama temsn untuk melepas stres. Bagi orang korsel, seseorang yang diajak minum hingga mabuk sudah dianggap sebagai teman. Sehingga rahasia diantara mereka aman karena ada rasa saling percaya antar teman.
Kebiasan orang korea dilingkungan kerja adalah tidak merokok di sembarang tempat. Bagi mereka, tidak sopan merokok didepan orang tua, atau ditempat umum. Jika merokok mereka akan memilih tempat yang tida termasuk kategori tersebut dan tempat lainnya yang ada larangan merokok.
Budaya kerja cepat orang korea
Di korea, kerja cepat nampaknya adalah kultur yang dikenalkan sejak kecil. Kata “ayo lekas-lekas”, sering terdengar dimana-mana. Disubway, dipasar, sekolah, supermarket, universitas dan setiap sudut jalan di seoul. Itulah sebabnya kenapa orang dikorea ketika berjalan, berjalan sangat cepat. Tidak peduli muda, yang tua juga berjalan sangat cepat.
Dalam kultur masyarakat korea, generasi tua korea cukup sadis dalam mengenalkan budaya cepat ke anaknya. Berbeda dengan indonesia, zebra cross di korea diberi lampu merah. Waktu hijau lampu penyebrangan hanya 30 detik. Sangat singkat. Sementara waktu tunggu sampai hijau lagi bisa 5 menit.
Budaya kerja cepat ini bukan disebabkan karena iklim korea yang sangat keraas. Namun karena bagi orang korea, waktu sangatlah berharga. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk bermalas-malasan atau mengerjakan suatu aktivitas yang tidak berproduktif. Bagi mereka, lebih baik menggunakan waktunya untuk bekerja dan belajar daripada menghabiskan waktunya untuk main-main.
Budaya kerja cepat nampaknya juga berpengaruh nyata dalam bidang bisnis atau perdagangan. Saat melayani konsumen atau pelanggan misalnya, mereka tidak suka bekerja lambat. Pasalnya, mereka takut jika konsumen kecewa. Bahkan, tak jarang mereka memberikan garansi bahwa pesanan konsumen bisa mereka dapatkan dalam waktu singkat. Sungguh luar biasa.
Dalam kultur masyarakat korea, generasi tua korea cukup sadis dalam mengenalkan budaya cepat ke anaknya. Berbeda dengan indonesia, zebra cross di korea diberi lampu merah. Waktu hijau lampu penyebrangan hanya 30 detik. Sangat singkat. Sementara waktu tunggu sampai hijau lagi bisa 5 menit.
Budaya kerja cepat ini bukan disebabkan karena iklim korea yang sangat keraas. Namun karena bagi orang korea, waktu sangatlah berharga. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk bermalas-malasan atau mengerjakan suatu aktivitas yang tidak berproduktif. Bagi mereka, lebih baik menggunakan waktunya untuk bekerja dan belajar daripada menghabiskan waktunya untuk main-main.
Budaya kerja cepat nampaknya juga berpengaruh nyata dalam bidang bisnis atau perdagangan. Saat melayani konsumen atau pelanggan misalnya, mereka tidak suka bekerja lambat. Pasalnya, mereka takut jika konsumen kecewa. Bahkan, tak jarang mereka memberikan garansi bahwa pesanan konsumen bisa mereka dapatkan dalam waktu singkat. Sungguh luar biasa.
Nilai budaya bangsa korea
Korea adalah bangsa yang memiliki harga diri dan bermartabat tinggi. Sejarah panjang terukhir dalam perjalanan peradaban mereka yang mencerminkan dinamika kebudayaan. Oleh sebab itu, tidak heran jika perubahan selalu terjadi. Berbagai kejadian domestik hingga internasional yang saling terkait. Terbukti masyarakat korea dituntut untuk selalu beradaptasi dengan sekitarnya.
Perjajahan jepang selama 35 tahun misalnya, tidak mampu menggeser kebudayaan asli korea. Hebatnya bangsa korea justru tertantang untuk menyaingi peradaban dan kebudayaan bangsa jepang,yang notabene jauh lebih mapan.
Setidaknya ada 5 nilai bangsa korea yang selalu di pegang teguh oleh setiap warga korea. Yang mereka aplikasikan dalam berbagai segmen kehidupan, termasuk dalam dunia bisnis ataupun perdagangan.
1.Satu, koenchanayo
Koenchanayo yang artinya toleransi dan menghargai orang lain. Dalam berbisnis orang korea selalu memiliki toleransi yang tinggi dan menghargai orang lain secara baik. Bentuk toleransi tersebut beraneka ragam, diantaranya adalah dengan memberikan kesempatan kepada konsumen atau rekn bisnis untuk melaksanakan transaksi secara adil.
2.Dua, kibun
Kibun berarti menghargai orang lain dan menghindari tindakan yang bisa menyebabkan orang lain kehilangan muka. Dalam berbisnis, orang korea tidak suka menjatuhkan atau menjelek-jelekkan kompetitornya. Sehingga, kompetitornya di jauhi oleh konsumen. Bagi orang korea, persaingan adalah hal yang wajar dalam dunia bisnis. Justru dengan adanya kompetitor, mereka tertantang untuk memperbaiki diri dan kualitas produk perusahaan mereka.
3.Tiga, inhwa
Inhwa berarti pendekatan terhadap keharmonisan dalam kultur bisnis korea. Hal ini tercermin dalam rasa setia pada perusahaan. Dalam dunia bisnis, orang korea sangat loyal terhadap suatu perusahaan atau tampat mereka bekerja. Pantang bagi mereka menmbocorkan rahasia perusahaan, padahal mereka mencari ‘makan’ di tempat tersebut.
4.Empat, hanh
Hanh berarti energi hidup untuk mengejar pendidikan dan melakukan pengorbanan diri demi meningktkan kesejahteraan keluarga dan negara. Dalam hal ini, orang korea seperti halnya orang cina. Bagi mereka, kesuksesan tidaklah patut dirasakan oleh dirinya sendiri. Kesuksesan juga bisa dirasakan oleh orang lain, khususnya keluarga besarnyaa.
5.Lima, jeong do management.
Jeong do management merupakan acuan filosofi bagi LG. Senantiasa menyediakan nilai tambah bagi konsumen dengan selalu melakukan inovasi berkelanjutan. Inovasi nampaknya menjadi kelebihan orang korea. Mereka selalu mempunyai ide-ide kreatif dan inovatif untuk di tawarkan pada konsumen.
Perjajahan jepang selama 35 tahun misalnya, tidak mampu menggeser kebudayaan asli korea. Hebatnya bangsa korea justru tertantang untuk menyaingi peradaban dan kebudayaan bangsa jepang,yang notabene jauh lebih mapan.
Setidaknya ada 5 nilai bangsa korea yang selalu di pegang teguh oleh setiap warga korea. Yang mereka aplikasikan dalam berbagai segmen kehidupan, termasuk dalam dunia bisnis ataupun perdagangan.
1.Satu, koenchanayo
Koenchanayo yang artinya toleransi dan menghargai orang lain. Dalam berbisnis orang korea selalu memiliki toleransi yang tinggi dan menghargai orang lain secara baik. Bentuk toleransi tersebut beraneka ragam, diantaranya adalah dengan memberikan kesempatan kepada konsumen atau rekn bisnis untuk melaksanakan transaksi secara adil.
2.Dua, kibun
Kibun berarti menghargai orang lain dan menghindari tindakan yang bisa menyebabkan orang lain kehilangan muka. Dalam berbisnis, orang korea tidak suka menjatuhkan atau menjelek-jelekkan kompetitornya. Sehingga, kompetitornya di jauhi oleh konsumen. Bagi orang korea, persaingan adalah hal yang wajar dalam dunia bisnis. Justru dengan adanya kompetitor, mereka tertantang untuk memperbaiki diri dan kualitas produk perusahaan mereka.
3.Tiga, inhwa
Inhwa berarti pendekatan terhadap keharmonisan dalam kultur bisnis korea. Hal ini tercermin dalam rasa setia pada perusahaan. Dalam dunia bisnis, orang korea sangat loyal terhadap suatu perusahaan atau tampat mereka bekerja. Pantang bagi mereka menmbocorkan rahasia perusahaan, padahal mereka mencari ‘makan’ di tempat tersebut.
4.Empat, hanh
Hanh berarti energi hidup untuk mengejar pendidikan dan melakukan pengorbanan diri demi meningktkan kesejahteraan keluarga dan negara. Dalam hal ini, orang korea seperti halnya orang cina. Bagi mereka, kesuksesan tidaklah patut dirasakan oleh dirinya sendiri. Kesuksesan juga bisa dirasakan oleh orang lain, khususnya keluarga besarnyaa.
5.Lima, jeong do management.
Jeong do management merupakan acuan filosofi bagi LG. Senantiasa menyediakan nilai tambah bagi konsumen dengan selalu melakukan inovasi berkelanjutan. Inovasi nampaknya menjadi kelebihan orang korea. Mereka selalu mempunyai ide-ide kreatif dan inovatif untuk di tawarkan pada konsumen.
Cinta produk dalam negeri
Siapa yang tidak mengenal merek-merek terkenal seperti samsung, KIA, dan hyundai? Merek-merek tersebut merupakan produk buatan korea selatan. Mobil hyundai bahkan memenangi nort amerian car of the years award, karena dianggap sebagai pendatang baru relatif murah (US$ 40 ribu), yang berhaasil menyaingi lexus, marcedes dan BMW. Sementara itu produk samsung galaxi tab boleh berbangga diri karena berhasil mendapat tablet android terlaris. Di indonesia, penjualanya telah mampu menguasai 71% market share.
Kesuksesan ekonomi korea selatan di capai pada akhir 1980-an ketika PDB berkembang dari rata-rata 8% Pertahun (US$2,7 milyar) pada tahun 1962 menjadi US$230 milyar pada 1989. Jumlah ini kira-kira 20 kali lipat dari korea utara dan sama dengan ekonomi-ekonomi menengah di ekonomi eropa.
Kemajuan ekonomi ini dekenal dengan nama keajaiban di sungai han. Bahkan saat ini pendapatan perkapita korea selatan hampir mendekati amerika serikat dan jepang.
Jika melihat sejarah yang di alami korea selatan, negara ini mengalami semuanya dari keterperukan. Pasca perang korea pada tahun 1950-an yang akhirnya memecah semenanjung korea menjadi dua negara yang beridiologi yang saling berseberangan, korea selatan harus menggantungkan dirinya pada pinjaman hutang amerika seriakat untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Baru pada awal periode 1960-an korea selatan memulai membangun industrinya dari industri pengolahan biji besi, tungsten dan bahan baku sutra yang tidak memiliki nilai tambah tinggi. Namun sejak 1970-an mulai berkembang sektor-sektor industri baru yang berorientasi ekspor seperti tekstil, petrokimia, garmen dan kayu lapis.
Tahun 1980-an, korea selatan mulai merubah orientasi industrinya menjadi berbasis pengetahuan (knowledge based economy). Sehingga psca krisis indonesia di tahun 1997 mulai bermunculan produk-produk berinovasi tinggi dari negara gingseng ini. Ekonomi berbasis pengetahuan dijalankan oleh pemerintah korea selatan dengan menggandeng kemitraan strategis antara pemerintah, bisnis dan perguruan tnggi, atsau yang di kenal dengan istilah tripel helix.
Word blank (2012) mencatat, korea selatan dan finlandia menjadi salah satu negara yang berhasil menjalankan konsep ekonomi berbasis pengetahuan dalam pembangunan nasionalnya.
Kebijakan yang diterapkan oleh korea selatan untuk membangun perekonomianya berbasis pengetahuan telah mengantarkan hasil produk-produk industri berdaya saing tinggi. Memiiki produk yang diakui secara internasional merupakan kebanggaann sendiri bagi masyarakat korea selatan. Terlebih mereka juga memiliki kecintaan terhadap produk-produk lokal. Maka tak heran jika produk dalam negeri di pakai oleh penduduk lokal banyak di jumpai di korea selatan.
Beginilah bangsa korea dalam membangun negaranya. Mencintai produk dalam negeri dari hulu hingga hilir, yakni menciptakan kualitas produk yang inovatif dan berdaya saing serta tidak malu untuk menggunakannya sendiri. Semoga bangsa indonesia bisa belajar dari kesuksesanya bangsa korea ini.
Kesuksesan ekonomi korea selatan di capai pada akhir 1980-an ketika PDB berkembang dari rata-rata 8% Pertahun (US$2,7 milyar) pada tahun 1962 menjadi US$230 milyar pada 1989. Jumlah ini kira-kira 20 kali lipat dari korea utara dan sama dengan ekonomi-ekonomi menengah di ekonomi eropa.
Kemajuan ekonomi ini dekenal dengan nama keajaiban di sungai han. Bahkan saat ini pendapatan perkapita korea selatan hampir mendekati amerika serikat dan jepang.
Jika melihat sejarah yang di alami korea selatan, negara ini mengalami semuanya dari keterperukan. Pasca perang korea pada tahun 1950-an yang akhirnya memecah semenanjung korea menjadi dua negara yang beridiologi yang saling berseberangan, korea selatan harus menggantungkan dirinya pada pinjaman hutang amerika seriakat untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Baru pada awal periode 1960-an korea selatan memulai membangun industrinya dari industri pengolahan biji besi, tungsten dan bahan baku sutra yang tidak memiliki nilai tambah tinggi. Namun sejak 1970-an mulai berkembang sektor-sektor industri baru yang berorientasi ekspor seperti tekstil, petrokimia, garmen dan kayu lapis.
Tahun 1980-an, korea selatan mulai merubah orientasi industrinya menjadi berbasis pengetahuan (knowledge based economy). Sehingga psca krisis indonesia di tahun 1997 mulai bermunculan produk-produk berinovasi tinggi dari negara gingseng ini. Ekonomi berbasis pengetahuan dijalankan oleh pemerintah korea selatan dengan menggandeng kemitraan strategis antara pemerintah, bisnis dan perguruan tnggi, atsau yang di kenal dengan istilah tripel helix.
Word blank (2012) mencatat, korea selatan dan finlandia menjadi salah satu negara yang berhasil menjalankan konsep ekonomi berbasis pengetahuan dalam pembangunan nasionalnya.
Kebijakan yang diterapkan oleh korea selatan untuk membangun perekonomianya berbasis pengetahuan telah mengantarkan hasil produk-produk industri berdaya saing tinggi. Memiiki produk yang diakui secara internasional merupakan kebanggaann sendiri bagi masyarakat korea selatan. Terlebih mereka juga memiliki kecintaan terhadap produk-produk lokal. Maka tak heran jika produk dalam negeri di pakai oleh penduduk lokal banyak di jumpai di korea selatan.
Beginilah bangsa korea dalam membangun negaranya. Mencintai produk dalam negeri dari hulu hingga hilir, yakni menciptakan kualitas produk yang inovatif dan berdaya saing serta tidak malu untuk menggunakannya sendiri. Semoga bangsa indonesia bisa belajar dari kesuksesanya bangsa korea ini.
Friday, June 24, 2016
11 Rahasia sukses orang korea
Sudah menjadi rhasia umum bila orang korea adalah pekerja keras dan loyal tehaadap pekerjaan. Sepertinya masyarakat indonesia patut menyontoh kedisiplinan masyarakat korea. Tidak hny saat bekerja saja, tetapijuga dlam kehidupan sehari-hari kedisiplinan menjadi modal utama masyarakat korea untuk maju. Jika menyimak perjalanan sejarah bangsa korea, Berikut adalah ulasanya :
1. Kerja keras
Orang korea memiliki prinsip hidup “ketika kamu tidak bekerja keras, kamu tidak akan hidup”. Pantas jika bangsa korea di kenal sebagai bangsa pekerja keras”. Dalam jumlah jam kerja misalnya, rata-rata pekerja korea bekerja 2.261 jam er tahun atau 200 jam lebih tinggi di banding 1994. Ini jauh melampaui sebagian besar dari 22 negara majuyang tergabung dalam OECD. Rata-rata pekerja jepang misalnya, hanya sekitar 1.800 jam per tahun. Sementara pekerja di AS berada jauh di bawah itu.
Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di korea dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yan tidak di butuhkan” oleh perusahaan.
Karena bangsa korea tidak menyukai kemalasan, maka jangan heran apabila mendengar kabar pengemis ditemukan tewas di emperan karena tidak ada yang memberi makan. Bukan berarti mereka pelit, tetapi bangsa korea tidak suka melihat mereka hanya ingin “enaknya doang”. Namun mereka akan dengan senang hati bantuan modal dengan syarat lunak apabila kita ingin bekerja.
2. Loyalitas tanpa batas
Slogan ‘loyalitas tanpa batas’ sudaah menjadi suplemen orang korea. Karena loyalitas itulahsitie karir sebuah perusahaan berjalan dan tertata rapi. Tidak seperti di ASatau di negara-negara eropa, sangat jarang orang korea berpindah-pindah perusahaan atau pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan hingga pensiun. “ini mungkin implikasi dari industri di korea yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai bidang garapan (core busnisess) perusahaan. Dalam hal loyalitas, loyalitas orang korea sebanding dengan loyalitas orang jepang.
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Tidak seperti di negara lain, sangat jarang ada orang korea berpindah-pindah perusahaan. Karena mereka mempunyai sense of belonging yang tinggi terhadap tempatnya bekerja. Bagi mereka, terlebih bagi yang terlibat sejak awalberdirinya perusahaan, kesuksesan perusahaan adalah kesuksesan bagi mereka juga. Oleh karena itu banyak orang korea yang bertahan di satu dua perusahaan sampai pensiun. Ini bukan berarti mereka tidak suka suasana baru atau tantangan baru, melainkan hanya masalah loyalitas.
3. Malu
Malu merupakan budaya leluhur dan turun-temurun bangsa korea. Meski tidak seperti jepang yang di kenal budaya harakiri bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut, orang korea juga memiliki budaya malu yang sangat tinggi. Jika orang korea gagal dalam mengembang tugasnya, mereka akan segera menanggalkan jabatanya.
Orang korea juga malu terhadap lingkunganya bila melanggar aturan/norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. Mereka secara otomatis akan membentuk antrian dalam situasi seperti beli tiket. Bahkan untuk memakai toilet umum mereka berjajar rapih walau sudah kebelet.
4. Jaga tradisi dan menghormati orang tua
Hingga kini tradisi dan budaya di korea tidak luntur mesti berkembang teknologi dan ekonomi bergerak pesat. Bahkan, belakangan korea sangat gencar mempromosikan ytradisi dan budayanya lewat banyak film atau sereal drama koreanya. Maka jangan heran, jika sekarang banyak film korea yang ber-seting tempo dulu. Tujuan mereka tak lain agar dunia semakin mengenal tradisi dan budaya orang korea.
Selain itu, budaya minta maaf masih menjadi reflek orang korea. Kalau suatu hari anda naik sepeda di korea dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
5. Hidup hemat
Masih ingat kasus penjualan blackberry murah di pasifik place beberapa waktu lalu yang memakan korban luka-luka hingga ada yang patah kaki? Fakta itu adalah cerminan bila masyarakat indonesia masih terbilang sebagai masyarakat konsumtif.
Bangsa jepang memiliki semangat hidup hemat. Sikap anti komunisme terlihat dlam berbagai bidang lehidupan di korea. Anda akan terheran-heran kalau melihat supermarket di sana ramai antrian pada pukul 19.30 ternyata supermarket disana memotong harga sampai separuhnya pada waktu setengah jam sbelum tutup. Banyak orang korea tidak memiliki mobil bukan karena tidak mampu membeli tapi lebih hemat menggunakan bus atau kereta untuk bepergian.
6. Mandiri
Pada orang tua di korea sudah menganjurkan anak-anaknya sejak dini untuk mandiri. Di banyak tempat, anak sejak dini sudah di latih untuk membawa perlengkapan sendiri. Hebatnya, pasca lulus SMA dan masuk bangku kuliah, hampir sebagian besar remaj korea tidak meminta biaya kepada orang tua. Banyak diantaa mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, merka ‘meminjam’ uang ke orangtua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
7. Inovasi
Kore munkin bukan hanya penemu seperti bangsa cina. Namun korea di anugerahi kelebihan dalam meracik temuan orang lain untuk kemudian memasarkannya dalam bentuk yang di minati oleh masyarakat. Bahkan, karena inovasi yang luar biasa, korea belakangan menjadi trend center fasion di asia.
8. Pantang menyerah
Sejarah membuktikan korea termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Pada tahun 1950, korea selatan masih menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Ia pun akhirnya mampu bangkit dan menyalip negara-negara berkembang lainya. Mental pantang menyerah menjadi energi orang korea untuk bangkit dari keterpurukan tersebut.
9. Budaya baca
Lagi-lagi masyarakat dan pemerintah indonesia perlu mencontoh korea dalam memberantas buta aksara. Pasalnya, hampir semua orang korea hobi membaca. Maka jangan heran bila anda datang ke korea dan naik kendaraan umum, sebagian besar penumpangnya dari anak-anak hingga dewasa sedang membaca buku atau koran. Tak perduli mereka mendapat tempat duduk atau berdiri, waktu uang dalam perjalanan selalu di manfatkan untuk membaca.
10. Kerjasama kelompok
Orang korea senang bekerja secara berkelompok sehingga pekerjaan yang di hasilkan jauh lebih baik dan sempurna. Maka, jarang orang korea mengklaim hasil pekerjaan yang dilakukan secara kelompok. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitianya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok salah satu kekuatan terbesar orang korea.
11. Profesional
Selain di akhir pekan. Tetapi hampir tidak pernah ada yang menggunakannya di hari kerja. Mereka banyak menghabiskan waktu di hari biasa untuk belajar. Ketika tidak ada kuliah, maka yang mereka lakukan adalah ke perpustakaan atau tempat lain untuk belajar.
1. Kerja keras
Orang korea memiliki prinsip hidup “ketika kamu tidak bekerja keras, kamu tidak akan hidup”. Pantas jika bangsa korea di kenal sebagai bangsa pekerja keras”. Dalam jumlah jam kerja misalnya, rata-rata pekerja korea bekerja 2.261 jam er tahun atau 200 jam lebih tinggi di banding 1994. Ini jauh melampaui sebagian besar dari 22 negara majuyang tergabung dalam OECD. Rata-rata pekerja jepang misalnya, hanya sekitar 1.800 jam per tahun. Sementara pekerja di AS berada jauh di bawah itu.
Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di korea dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yan tidak di butuhkan” oleh perusahaan.
Karena bangsa korea tidak menyukai kemalasan, maka jangan heran apabila mendengar kabar pengemis ditemukan tewas di emperan karena tidak ada yang memberi makan. Bukan berarti mereka pelit, tetapi bangsa korea tidak suka melihat mereka hanya ingin “enaknya doang”. Namun mereka akan dengan senang hati bantuan modal dengan syarat lunak apabila kita ingin bekerja.
2. Loyalitas tanpa batas
Slogan ‘loyalitas tanpa batas’ sudaah menjadi suplemen orang korea. Karena loyalitas itulahsitie karir sebuah perusahaan berjalan dan tertata rapi. Tidak seperti di ASatau di negara-negara eropa, sangat jarang orang korea berpindah-pindah perusahaan atau pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan hingga pensiun. “ini mungkin implikasi dari industri di korea yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai bidang garapan (core busnisess) perusahaan. Dalam hal loyalitas, loyalitas orang korea sebanding dengan loyalitas orang jepang.
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Tidak seperti di negara lain, sangat jarang ada orang korea berpindah-pindah perusahaan. Karena mereka mempunyai sense of belonging yang tinggi terhadap tempatnya bekerja. Bagi mereka, terlebih bagi yang terlibat sejak awalberdirinya perusahaan, kesuksesan perusahaan adalah kesuksesan bagi mereka juga. Oleh karena itu banyak orang korea yang bertahan di satu dua perusahaan sampai pensiun. Ini bukan berarti mereka tidak suka suasana baru atau tantangan baru, melainkan hanya masalah loyalitas.
3. Malu
Malu merupakan budaya leluhur dan turun-temurun bangsa korea. Meski tidak seperti jepang yang di kenal budaya harakiri bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut, orang korea juga memiliki budaya malu yang sangat tinggi. Jika orang korea gagal dalam mengembang tugasnya, mereka akan segera menanggalkan jabatanya.
Orang korea juga malu terhadap lingkunganya bila melanggar aturan/norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. Mereka secara otomatis akan membentuk antrian dalam situasi seperti beli tiket. Bahkan untuk memakai toilet umum mereka berjajar rapih walau sudah kebelet.
4. Jaga tradisi dan menghormati orang tua
Hingga kini tradisi dan budaya di korea tidak luntur mesti berkembang teknologi dan ekonomi bergerak pesat. Bahkan, belakangan korea sangat gencar mempromosikan ytradisi dan budayanya lewat banyak film atau sereal drama koreanya. Maka jangan heran, jika sekarang banyak film korea yang ber-seting tempo dulu. Tujuan mereka tak lain agar dunia semakin mengenal tradisi dan budaya orang korea.
Selain itu, budaya minta maaf masih menjadi reflek orang korea. Kalau suatu hari anda naik sepeda di korea dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
5. Hidup hemat
Masih ingat kasus penjualan blackberry murah di pasifik place beberapa waktu lalu yang memakan korban luka-luka hingga ada yang patah kaki? Fakta itu adalah cerminan bila masyarakat indonesia masih terbilang sebagai masyarakat konsumtif.
Bangsa jepang memiliki semangat hidup hemat. Sikap anti komunisme terlihat dlam berbagai bidang lehidupan di korea. Anda akan terheran-heran kalau melihat supermarket di sana ramai antrian pada pukul 19.30 ternyata supermarket disana memotong harga sampai separuhnya pada waktu setengah jam sbelum tutup. Banyak orang korea tidak memiliki mobil bukan karena tidak mampu membeli tapi lebih hemat menggunakan bus atau kereta untuk bepergian.
6. Mandiri
Pada orang tua di korea sudah menganjurkan anak-anaknya sejak dini untuk mandiri. Di banyak tempat, anak sejak dini sudah di latih untuk membawa perlengkapan sendiri. Hebatnya, pasca lulus SMA dan masuk bangku kuliah, hampir sebagian besar remaj korea tidak meminta biaya kepada orang tua. Banyak diantaa mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, merka ‘meminjam’ uang ke orangtua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
7. Inovasi
Kore munkin bukan hanya penemu seperti bangsa cina. Namun korea di anugerahi kelebihan dalam meracik temuan orang lain untuk kemudian memasarkannya dalam bentuk yang di minati oleh masyarakat. Bahkan, karena inovasi yang luar biasa, korea belakangan menjadi trend center fasion di asia.
8. Pantang menyerah
Sejarah membuktikan korea termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Pada tahun 1950, korea selatan masih menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Ia pun akhirnya mampu bangkit dan menyalip negara-negara berkembang lainya. Mental pantang menyerah menjadi energi orang korea untuk bangkit dari keterpurukan tersebut.
9. Budaya baca
Lagi-lagi masyarakat dan pemerintah indonesia perlu mencontoh korea dalam memberantas buta aksara. Pasalnya, hampir semua orang korea hobi membaca. Maka jangan heran bila anda datang ke korea dan naik kendaraan umum, sebagian besar penumpangnya dari anak-anak hingga dewasa sedang membaca buku atau koran. Tak perduli mereka mendapat tempat duduk atau berdiri, waktu uang dalam perjalanan selalu di manfatkan untuk membaca.
10. Kerjasama kelompok
Orang korea senang bekerja secara berkelompok sehingga pekerjaan yang di hasilkan jauh lebih baik dan sempurna. Maka, jarang orang korea mengklaim hasil pekerjaan yang dilakukan secara kelompok. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitianya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok salah satu kekuatan terbesar orang korea.
11. Profesional
Selain di akhir pekan. Tetapi hampir tidak pernah ada yang menggunakannya di hari kerja. Mereka banyak menghabiskan waktu di hari biasa untuk belajar. Ketika tidak ada kuliah, maka yang mereka lakukan adalah ke perpustakaan atau tempat lain untuk belajar.
Banyak belajar dari kegagalan, sifat orang korea
Orang-orang korea selatan banyak dikenal dengan semangat rajin bekerja (budaya can do spirit). Melalui budaya ini orang korea menjadikan tujuan maksimalnya sebagai landasan awal, sehingga kegagaln seringkali menyertai usaha yang dijalankan. Namun kegagalan itu justru membawa keberhasilan, karena membuat orang korea terus belajar dari kegagalan yang mereka alami.
Pertama, dari segi kepemimpinan politik. Sejak awal kemerdekannya, pemimpin korsel mampu melihat masa depan bangsa dan lebih memilih sistem pemerintahan demokrasi liberal, walaupun saat negara dunia justru banyak yang memilih ideologi sosialisme, “terutama pada masa kepemimpinan presiden lee syngmen dan masa park chung-hee, kedua pemimpin ini yang berkeras untuk mempertahankan keaanan dan pembangunan ekonomi korea”, jelasnya
Kesua, sifat orang korea yang bersatu padu saat mengalami krisis. Krisis bagi orang korea memiliki dua makna, yaitu waktu darurat dan kesempatan baru. Saat terjadi krisis, orang korea melakukan gerakan mengumpulkan emas sehingga hanya dalam waktu 3 tahun sudah mampu membayar hutang pada international monetary fund (imf).
Kemudian saat jepang ingin menduduki korsel, semua laki-laki dikorea bersatu menolak rokok dan mengumpulkan uang untuk membayar utang kerajaan, walaupun berakhir dengan kegagalan. “lagi-lagi karena tidak banyak pilihan bagi orang korea. Hidup atau mati. Berkembang maju atau monoton”, jelas mantan marinir pada perang vietnam tersebut.
Ketiga, sikap pemilik perusahaan di korea yang selalu ingin menyebarluaskan dan mengembangkan bisnisnya. Dikorea utara terdapat suatu tempat bernama gaesung yang merupakan kompleks industri dimana terdapat banyak perusahaan-perusahaan milik pengusaha dari korsel
“walaupun konflik korsel dan korut memanas, para pengusaha korsel tetap tidak mau jauh-jauh dari perusahaannya yang berada di korut. Karena upah pekerja di korut jauh lebih murah, sehingga mereka hanya perlu menyediakan bahan produksi saja”, terang mantan ketua asosiasi studi islam di korea itu.
Diakhir sesi perkuliahannya, prof. Yang menambahkan bahwa posisi indonesia dan korea tidak terlalu jauh berbeda. Indonesia bahkan bisajauh lebih maju dari korsel karena memiliki pasaran yang luas dan aktif, serta kaya akan sumber daya alam dan masih banyak tanah kosong. Walaupun upah tenaga kerja indonesia kecil, namun masih bisa bersaing di kanca internasional. “dengan semangat kerja yang tinggi dam pimpinan politik yang berish dan jujur, indonesia tentu akan menjadi negara yang hebat dan maju”, tutupnya
Pertama, dari segi kepemimpinan politik. Sejak awal kemerdekannya, pemimpin korsel mampu melihat masa depan bangsa dan lebih memilih sistem pemerintahan demokrasi liberal, walaupun saat negara dunia justru banyak yang memilih ideologi sosialisme, “terutama pada masa kepemimpinan presiden lee syngmen dan masa park chung-hee, kedua pemimpin ini yang berkeras untuk mempertahankan keaanan dan pembangunan ekonomi korea”, jelasnya
Kesua, sifat orang korea yang bersatu padu saat mengalami krisis. Krisis bagi orang korea memiliki dua makna, yaitu waktu darurat dan kesempatan baru. Saat terjadi krisis, orang korea melakukan gerakan mengumpulkan emas sehingga hanya dalam waktu 3 tahun sudah mampu membayar hutang pada international monetary fund (imf).
Kemudian saat jepang ingin menduduki korsel, semua laki-laki dikorea bersatu menolak rokok dan mengumpulkan uang untuk membayar utang kerajaan, walaupun berakhir dengan kegagalan. “lagi-lagi karena tidak banyak pilihan bagi orang korea. Hidup atau mati. Berkembang maju atau monoton”, jelas mantan marinir pada perang vietnam tersebut.
Ketiga, sikap pemilik perusahaan di korea yang selalu ingin menyebarluaskan dan mengembangkan bisnisnya. Dikorea utara terdapat suatu tempat bernama gaesung yang merupakan kompleks industri dimana terdapat banyak perusahaan-perusahaan milik pengusaha dari korsel
“walaupun konflik korsel dan korut memanas, para pengusaha korsel tetap tidak mau jauh-jauh dari perusahaannya yang berada di korut. Karena upah pekerja di korut jauh lebih murah, sehingga mereka hanya perlu menyediakan bahan produksi saja”, terang mantan ketua asosiasi studi islam di korea itu.
Diakhir sesi perkuliahannya, prof. Yang menambahkan bahwa posisi indonesia dan korea tidak terlalu jauh berbeda. Indonesia bahkan bisajauh lebih maju dari korsel karena memiliki pasaran yang luas dan aktif, serta kaya akan sumber daya alam dan masih banyak tanah kosong. Walaupun upah tenaga kerja indonesia kecil, namun masih bisa bersaing di kanca internasional. “dengan semangat kerja yang tinggi dam pimpinan politik yang berish dan jujur, indonesia tentu akan menjadi negara yang hebat dan maju”, tutupnya
Subscribe to:
Posts (Atom)