Friday, June 24, 2016

Banyak belajar dari kegagalan, sifat orang korea

Orang-orang korea selatan banyak dikenal dengan semangat rajin bekerja (budaya can do spirit). Melalui budaya ini orang korea menjadikan tujuan maksimalnya sebagai landasan awal, sehingga kegagaln seringkali menyertai usaha yang dijalankan. Namun kegagalan itu justru membawa keberhasilan, karena membuat orang korea terus belajar dari kegagalan yang mereka alami.

Pertama, dari segi kepemimpinan politik. Sejak awal kemerdekannya, pemimpin korsel mampu melihat masa depan bangsa dan lebih memilih sistem pemerintahan demokrasi liberal, walaupun saat negara dunia justru banyak yang memilih ideologi sosialisme, “terutama pada masa kepemimpinan presiden lee syngmen dan masa park chung-hee, kedua pemimpin ini yang berkeras untuk mempertahankan keaanan dan pembangunan ekonomi korea”, jelasnya

Kesua, sifat orang korea yang bersatu padu saat mengalami krisis. Krisis bagi orang korea memiliki dua makna, yaitu waktu darurat dan kesempatan baru. Saat terjadi krisis, orang korea melakukan gerakan mengumpulkan emas sehingga hanya dalam waktu 3 tahun sudah mampu membayar hutang pada international monetary fund (imf).

Kemudian saat jepang ingin menduduki korsel, semua laki-laki dikorea bersatu menolak rokok dan mengumpulkan uang untuk membayar utang kerajaan, walaupun berakhir dengan kegagalan. “lagi-lagi karena tidak banyak pilihan bagi orang korea. Hidup atau mati. Berkembang maju atau monoton”, jelas mantan marinir pada perang vietnam tersebut.

Ketiga, sikap pemilik perusahaan di korea yang selalu ingin menyebarluaskan dan mengembangkan bisnisnya. Dikorea utara terdapat suatu tempat bernama gaesung yang merupakan kompleks industri dimana terdapat banyak perusahaan-perusahaan milik pengusaha dari korsel

“walaupun konflik korsel dan korut memanas, para pengusaha korsel tetap tidak mau jauh-jauh dari perusahaannya yang berada di korut. Karena upah pekerja di korut jauh lebih murah, sehingga mereka hanya perlu menyediakan bahan produksi saja”, terang mantan ketua asosiasi studi islam di korea itu.

Diakhir sesi perkuliahannya, prof. Yang menambahkan bahwa posisi indonesia dan korea tidak terlalu jauh berbeda. Indonesia bahkan bisajauh lebih maju dari korsel karena memiliki pasaran yang luas dan aktif, serta kaya akan sumber daya alam dan masih banyak tanah kosong. Walaupun upah tenaga kerja indonesia kecil, namun masih bisa bersaing di kanca internasional. “dengan semangat kerja yang tinggi dam pimpinan politik yang berish dan jujur, indonesia tentu akan menjadi negara yang hebat dan maju”, tutupnya

No comments:

Post a Comment