Sunday, July 10, 2016

Latihlah bagaimana bertranformasi “untuk menggapai sukses”

Bertranformasi berarti mencerna, seperti tubuh kita mencerna makanan. Dengan mencerna, makanan yang kita masukkan melaluai mulut akan diproses lalu menjadi berguna.

Ada yang menjadi gizi (daging), ada yang menjadi energi, dan ada yang menjadi kotoran sehingga harus dibuang. Hanya makanan yang sanggup dicerna oleh tubuh yang berguna.

Jiwa kita pun sebetulnya punya alat mencerna. Namanya adalah kapasitas untuk bertranformasi. Kapasitas ini hanya diberikan secara eksklusif kepada manusia. Binatang dan tumbuh-tumbuhan tidak diberi secanggih manusia.

Karena itu, peradaban dan kebudayaan di dunia binatang tidak berkembang atau tidak berubah. Singa atau ular tidak berpikir bagaimana membikin peternakan rusa supaya kalau lapar tinggal mengambil, tidak usah berburu. Cuma, ada perbedaan antara bagaimana tubuh kita mencerna dengan jiwa kita mencerna (transformasi). Sejauh tubuh atau raga kita normal, maka alat cernanya akan bekerja secara otomatis. Tapi, jiwa kita tidak begitu. Meski kita memilikikapasitas untuk mencerna kenyataan, peristiwa, pengalaman, dan lain-lain, namun kapasitas itu tidak langsung aktif sebelum kita suruh.

Makanya, konsep pengembangan kecerdasan mengenal sebuah ungkapan yang bunyinya begini, “peranan anda jauh lebih menentukan dari kecerdasan anda.” orang yang cerdas belum tentu menjadi hebat kalau dia bukan orang hebat, dalam arti mampu menyuruh dan melarang dirinya.

Demikian juga kapasitas bertranformasi. Kitalah yang menjadi tokoh kinci di sinsi. Transformasi adalah kemampuan mengolah atau mengubah apa yang dari luar untuk kita jadikan gizi dan energi bagi jiwa atau kita jadikan kotoran lalu kita buang supaya tidak menjadi penyakit.

Misalnya, anda dihina orang. Jika itu anda biarkan mengendap di dalam, lama-lama mengkristal menjadi batu yang membuat jiwa sakit atau tidak bisa bekerja secara optimal. Tapi, kalau di transformasikan, psti akan berubah fungsi..

Jika dikeluarkan dengan dimaafkan, maka akan mendapat pahala. Kalau diolah menjadi motifasi, ini akan menjadi energi untuk berubah.. Hampir semua perubahan, lahir dari ketidak puasan atau penolakan. Tapi tentunya setelah di transformasikan.

Seua orang pasti memiliki mekanisme tersendiri untuk mentransformasikan pengaaman atau kenyataan. Tapi, jika anda ingin mencoba mekanisme baru, tak ada salahnya anda menerapkan formula 4M berikut.

1. Menerima
2. Menyadari
3. Menggunakan
4. Menemukan

Katakanlah kita gagal mencapai keinginan tertentu. Agar kegagalan itubisa kita transformasikan, langkahnya adalah menerima kegagalan itu sebagai kegagalan. Jangan kita tolak, misalnya kita jengkel atau kecewa.

Perasaan demikian memang pasti muncul. Tapi jangan sampai kebablasan atau berkelanjutan. Harus ada upaya untuk bisa menerima dengan mengembangkan berbagai logika. Supaya penerimaan kita tidak menjadi fatalis, alias pasrah yang salah, perlu ada kesadaran bahwa di balik kegagalan itu ada hal-hal tertentu yang dapat mengantarkan kita pada kesuksesan. Menyadari hal ini akan membuat kita cepat mengontrol diri atau cepat bangkit.

Sebisa mungkin kesadaran itu jangan sampai dibiarkan hanya berupa kesadaran, tetaapi perlu dilakukan upaya menemukan hal-hal penting di balik kegagalan kita. Mungkin kita salah teknik, salah pilih orang, kurang menguasai proses, atau apa?

Terakhir adalah menggunakan apa yang kita temukan dalam upaya melanjutkan proses pencapaian keinginan. Percuma saja kita menemukan banyak pelajaran di balik pengalaman, kalau itu tidakk kita gunakan di dalam praktik.
“ karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (kebenaran).” (QS. Ali imran : 137)

Kata bijak :
“ada orang yang punya perhatian bagus terhadap penderitaan kita, tetapi punya iri yang besar terhadap keberhasilan kita”
“percuma saja kita menemukan banyak pelajaran di balik pengalaman, kalau itu tidak kita gunakan di dalam praktik.”

Saturday, July 9, 2016

Jadilah semakin hebat oleh tekanan “agar sukses”

Semua manusia pasti pernah merasa tertekan oleh masalah yang dihadapinya, baik dalam kadar sedikit atau banyak, sebentar atau lama, biasa biasa atau luar biasa. Data lapangan menunjukkan : tekanan ternyata merupakan hal yang paling banyak diderita manusia, khususnya di kota-kota besar.

Meski semua orang dipastikanpernah mengalami berbagai macam tekanan, tapi yang paling membedakan adalah ada orang yang memperlakukan tekanan itu sebagai penghancur dan ada yang memmperlakukannya sebagai pembangkit.

Begitu kita memperlakukannya sebagai penghancur, maka tekanan itulah yang disebut stres negatif. Stres negatif adalah tekanan yang akhirnya malah membuat kita semakin lemah atau ringkih. Ibarat komputer, stres negatif itu dapat merusak hardware dan merapuhkan software.

Beberapa hal yang bisa membuat kita mengalami stres diantaranya :

Hantaman beban dari luar yang terlalu mengagetkan sehingga kita belum sempat menyiapkan diri, seperti perceraian yang tidak dikehendaki, kematian orang terinta, atau perlakuan yang merusak.

Kemampuan adaptasi yang belum matang, misalnya tugas baru, situasi baru, atau perubahan baru.

Persepsi yang tidak logis atau ada masalah psikologis, misalnya kita gampang merasa tersinggung, mudah merasa disakiti, mudah merasa direndahkan, dan lain-lain.

Sebaliknya, bila kita dapat mengolah tekanan atau menggunakan tekanan itu sebagai pembangkit baru atau pencerah, maka stres yang kita alami adalah stres positif. Mengubah stres yang semula negatif menjadi stres positif inilah yang banyak dilakukan orang-orang hebat di berbagai level.

Ibarat pegas, jika semakin ditekan, maka itu justru akan memperkuat energinya untuk memantul. Begitu juga dengan kita. Semaki besar tekanan yang kita alami, maka kita akan semaki hebat. Ini bukan karena tekanannya, melainkan karena perlakuan kita terhadap tekanan itu.

DAMPAK BURUK DARI STRES NEGATIF

1. Memburuknya perasaan dan persepsi seorang terhadap dirinya
2. Memburuknya kemampuan seseorang dalam menghadapi persoalan
3. Tidak bisa menemukan kesenangan dalam berbagai hal
4. Munculnya perasaan putus asa, tidak berharga, atau sudah tidak berdaya lagi
5. Berlebihan dalam menilai diri secara negatif, selalu menyalakan diri sendiri, dan selalu menghakimi diri dengan kesimpulan-kesimpulan negatif
6. Tidak memiliki gairah seksual yang positif
7. Tidak bisa menciptakan hubungn yang hangat kepada teman atau keluarga
8. Pesimis dalam melihat masa depan
9. Tidak bisa menunjukan tanggung jawab ketika menyelesaikan tugas (asal-asalan)
10. Cenderung ingin menarik diri dari orang banyak
11. Memburuknyasikap dan tindakan sehari-hari
12. Cepat marah, cepat mengeluh atau menggerutu
13. Tidak puas dengan kehidupan (kufur mental)
14. Ingatan tidak bagus atau rusak (impaired memory)
15. Konsentrasinya tidak bagus (inability to concentrate)
16. Gampang dalam melangkah, tidak memiliki keputusan hidup yang jelas
17. Gagal dalam mengatsi persoalan hidup harian secara positif dan konstruktif (baik, bermanfaat dan benar) atau lebih cenderung membiarkan dan mengabaikan
18. Berpikir untuk bunuh diri atau “ingin mati saja”
19. Mudah kelelahan secara tidak wajar
20. Kurang energi atau tidak produktif
21 .Hilang nafsu makan atau sebaliknya (terlalu berlebihan ingin makan)
22. Susah tidur, sulit bangun pagi atau tidur terus (berlebihan)
23. Punya keluhan kesehatan fisik yang tidak wajar, misalnya sedikit-sedikit sakit kepala, sakit punggung dan lain-lain
24. Mengalami gangguan pencernaan (digestive problem), seperti mudah sakit perut, mual-mual dan semisalnya

EMPAT MACAM MASALAH

Merujuk paada hasil kajian para pakar manajemen, masalah yang dapat menekan hidup kita itu bisa dibedakan menjadi empat macam berikut ini :

Pertama, kesulitan (difficulty).

Kesulitan adalah masalah yang tidak kita ketahui atau belum kita ketahui bagaimana cara menyelesaikannya.

Kedua, teka-teki (puzzle).

Teka-teki adalah masalah yang belum kita ketahui jawapan apa yang paling tepat. Biasanya sudah menyediakan kotak khusus yang tidak bisa menerima segala bentuk jawaban, kecuali jawaban yang cocok dengan jumlah kotak itu.

Ketiga, misteri (mystery).

Mesteri adalah masalah yang tidak kita ketahui sebab-musabab, asal-usul, dan struktunya. Biasanya berupa kumpulan masalah yang sudah membentuk mata rantai atau lingkarn masalah.

Keempat, dilema.

Delima adalah masalah yang menawarkan kepada kita sebuah pilihan untuk kita pilih salah satunya.

Karena tidak ada manusia yang bisa membebasan diri dari masalah, apa pun bentuknya, berarti masalah itu ada atas seizin tuhan atau sudah menjadi kenyataan hidup. Sampai-sampai ada yang mengatakan kematian adalah akhir dari stres.

Dan karena atas izin-nya, maka bisa kita katakan bahwa masalah itu ada bukan karena sekadar ada seperti yang bisa kita pahami, melainkan karena ada gunanya. Untuk apa masalah itu di gunakan, ini kembali pada kita.

Kitalah yang di beri tawaran memilih. Pilihan disini bukan berkaitan dengan persoalan pusing atau tidak pusing karena siapapun yang punya masalah pasti pusing. Pilihan disini berkaitan dengan apa yang kita lakukan terhadap masalah itu.

Ada orang yang dibikin hancur oleh masalah dan ada yang dibikin kuat olehnya. Pendeknya, ada orang yang menjadi semakin positif dan ada orang yang menjadi semakin negatif ketika menghadapi masalah. Saya pikir sudah banyak cerita tentang manusia-manusia peraih prestasi tinggi di dunia ini yang sudah berhasil menjadikan masalah sebagai sumber motivasi untuk memperbaiki diri.

Mereka bisa membentuk dirinya menjsdi orang yang semakin cerah, semakan paham, semakin akurat langkahnya, semakin mantap memperjuangkan tujunnya setelah ada sekian masalah yang mendera.

Tentu, ini bukan berarti mereka tidak pusing menghadapi masalah. Mereka tetap pusing, bingung, dan merasa down, tetapi hanya untuk sementara atau tidak selamanya, dan mereka punya kemampuan untuk menyerap materi yang ada dalam “pendidikan tuhan” di dunia ini.

Sebagian besar “pendidikann tuhan” itu memberikan ujian lebih dulu kemudian baru menawarkan materi. Jika materi itu diserap, maka bertambah bijak dan bertambah cerahlah diri kita. Tetapi jika di tolak, maka tidak akan ada pencerahan apa pun di batin kita, walaupun sudah banyak masalah yang menimpa kita.

Terbukti, meskipun semua orang pernah di timpah masalah, tetapi hanya sedikit orang yang mendapatkan pencerahan dari masalah itu. Hellen keller menyimpulkan : yang membikin kita menjadi bijak bukanlah masalah, melainkan sejauh mana kita sanggup menyerap pelajaran dari masalah.

Petunjuk al-quran menjelaskan : di dunia ini ada orang yang dibikin sesat dan gelap oleh masalah (dhalalah) dan ada pula orang yang dibikin semakin lurus dan semakin cerah batinnya (hidayah, hikmah, dan seterusnya). Seperti yang di jelaskan oleh al-quran surah al-mulk : 2 :

“yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dialah (allah) yang maha kuat lagi maha pengampunan.”

Apa yang kita lakukan atas masalah adalah amal kita. Kalau positif, ia akan mendatangkan balasan positif. Sebaliknya jika negatif, maka ia akan mendatangkan balasan negatif.

Kata bijak :
“Stres negatif adalah tekanan yang akhirnya malah membuat kita semakin lemah atau ringkih”
“ibarat pegas jika semakin ditekan, maka itu justru akan memperkuat energinya untuk memantul. Begitu juga dengan kita. Semakin besar tekanan yang kita alami, maka kita akan semakin hebat.”

Mengelola hinaan dan cercaan untuk bangkit sukses

Bagaimana kita mengalahkan hinaan, cercaan, atau perlakuan buruk orang lain? Maksud mengalahkan disini tentu bukan mengalahkan orang yang menghina kita. Meski terkadang ini dibutuhkan, tetapi jangan hanya itu.

Pengertian mengalahkan yang sangat penting adalah mengalakan perasaan negatif yang kita ciptakan sendiri atas diri kita setelah kita dihina, dilecehkan, atau diperlakukan secara tidak fair menurut kita.

Dari pengalaman pribadi saya, yang perlu kita lakukan adalah memilah. Ini yang pertama. Tidak semua omongan orang pantas kita pikirkan siang dan malam. Meskipun begitu, tidak semua juga pantas kita abaikan atau kita cuekin. Ada omongan yang pantas kita perhatikan dan ada juga yang pantas kita abaikan.

Ada yang mengatakan, penyebab kegagalan seseorang adalah mendengarkan semua omongan orang lain seperti, dalam keadaan seperti apa, dan keluar dari mulut orang seperti apa, apa yang patut kita dengarkan dan yang tidak patut kita dengarkan, untuk kita jadikan bahan memotivasi diri.

Kalau kita gagal memilih dan memilah, mungkin kita akan bernasip seperti kisah seorang ayah dan anaknya yang membawa keledai. Karena si ayah terlalu mendengarkan omongan orang, akhirnya urusan berantakan.

Ketika mereka bertemu si A, si A ini ngomong begini, “kok keledainya tidak dinaikin?” ketika si ayah naik di atas keledai, lalu si B ngomong, “tega amat orang tua membiarkan anaknya berjalan, sementara dirinya naik keledai.”

Ketika si anak naik, lalu si C ngomong, “kurang ajar banget si anak itu, membiarkan orang tuanya berjalan kaki sementara dirinya naik keledai.” ketika si ayah dan si anak naik bersamaan, lalu si D ngomong, “benar-benar nggak punya hati nurani. Masa satu keledai di naiki dua orang.”

Kira-kira begitulh gambaran mengenai omongan yang keluar dari mulut orang lain tentang kita. Ada orang yang memang tak punya tujuan apa-apa kecuali hanya ingin ngomong, meskipun itu bernad anegatif atau merendahkan.

Di samping itu, ada juga omongan yang memang benar-benar dimaksudkan untuk kebaikan kita, meskipun nadanya kurang enak di telinga. Intinya, jangan semua orang lain itu “dimasukin hati”, tetapi jangan juga semua diabaikan.

Setelah memilih, barulah kita kemudian menanyakan. Ini langkah kedua. Kita perlu memunculkan pertanyaan positif yang dapat kita gunakan untuk mempositifkan diri kita. Misalnya, pelajaran apa yang bisa saya ambil dari omongan orang yang bernada menghina atau merendahkan itu untuk memperbaiki diri saya?

Dengan memunculkan pertanyaan positif, maka akan menyelamatkan kita dari cengkeraman perasaan negatif tentang diri sendiri gara-gara mendengarkan omongan negatif. Orang lain tentang kita. Jangan membiarkn omongan negatif oarang lain menjadi kenyataan di dalam diri kita.

Jangan juga memunculkan pertanyaan negatif gara-gara telinga kita mendengarkan omongan negatif orang. Pertanyaan negatif akan mendorong kita memunculkan jawaban negatif. Jawabannegatif akan mendorong kita melakukan hal yang negatif.

Jangan juga memunculkan pertanyaan lemah, yang bernada mengharapkan orang lain mengubah perlakuan dan omongannya tentang kita, sesuai kehendak kita. Orang lain bisa ngomong apa saja di depan atau di belakang kita di luar kontrol kita

Oleh karena itu, yang paling penting bukan mengubah orang lain, tetapi menjadikan omongan orang lain sebagai materi untuk mengubah diri sendiri supaya lebih baik, inilah jalan yang paling mudah untuk mengubah persepsi orang lain terhadap kita.

Setelah memilih dan memunculkan pertanyaan, maka yang terakhir adalah menggunakan. Gunakanlah omongan orang lain untuk mendorong anda, menjadi sumber motivasi, melalui sebuah program yang riil dan terukur. Di samping itu, ingatlah tiga hal di bawah ini :

Pertama, jangan berkampanye di depan sembarang orang tentang apa yang anda inginkan.

Berkampanyelah hanya di depan orang-orang yang bisa mendukung anda. Ada orang yang punya perhatin bagus terhadap penderitaan kita, tetapi punya iri yang besar terhadap keberhasilan kita.

Ada orang yang tak punya perhatian terhadap penderitaan kita, tetapi punya dukungan terhadap keberhasilan kita. Ada orang yang mendukung keberhasilan kita dan punya perhatian terhadap penderitaan kita, dan lain-lain yang macam dan jenisnya tidak bisa di sebut satu persatu.

Kedua, jangan melakukan sesuatu hanya demi dendam atas orang lain.

Karena ini akan membuat kita menjadikan orang lain sebagai kiblat atau pengontrol langkah kita. Lakukan sesuatu demi perbaikan diri sendiri sesuai tujuan yang sudah kita tetapkan, syukur-syukur bisa menjadi inspirator dan motivator bagi perbaikan orang lain.

Ketiga, tetap menjaga keserasian.

Keteraturan dan kecocokan dalam menggunakan energi itu. Tetapi melihat ke dalam, mengukur diri, dan memedomani tujuan. Terlalu berlebihan bila kita mendadak ingin menjadi penguasaha gara-gara ada omongan orang lain yang mengatakan bahwa kita sudah terlalu lama menjadi karyawan tanpa kita perhitungkan relevansi, kecocokan, dan ukuran dari kepastian kita.

Kata bijak :
“Karena kosentrasinya bukan lagi pada peningkatan keahlian dan kualitas bermain, maka baik kemenangan atau kekalahannya menjadi demotivator bagi kemajuan kariernya.”

Friday, July 8, 2016

Motivasi hidup “jangan jadi korban hinaan orang lain”

Ketika Nabi Muhammad saw. Mulai memperjuangkan islam, al-quran mengingatkan beliau begini :
“Wahai Rosul,janganlah kamu disedihan oleh orang-orang bersegera memperlihatkan kekafirannya yaitu orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, ‘kami beriman padahal hati mereka tidak beriman.” (QS. Al-ma’idah : 41)
Sayangnya,kenyakan kita justru lebih sering menjadikan hinaan orang lain sebagai demotivator atau penghancur diri, bentuk yang paling umum antara lain, kita malah memfasilitasi hinaan itu agar menjadi kenyataan.

Saya kira, tidak ada kesulitan apa pun bagi siapa saja untuk mengeluarkan hinaan dalam bentuk apa pun kepada kita, selama menghina ini di gratiskan. Orang bisa mengatakan bahwa kita ini adalah orang yang tidak punya kelebihan atau tidak punya kemanpuan.

Ketika itu terjadi, apa yang perlu kita sadari? Hinaan dalam bentuk omongan bernada looking down, sebetulnya tidak punya arti apa-apa buat kita. Menurut praktik hidup, hinaan demikian sudah lumrah dilakukan banyak orang.

Hanya saja, hinaan demikian akan membahayakan apabila hinaan itu kita beri kesempatan menjadi kenyataan di dalam diri kita. Begitu mendengar omongan orang yang mengatakan kita ini tidak punya kelebihan, lantas kita berkesimpulan yang sama. Kesimpulan inilah yang menjadi demotivator kita.

Seperti kata motivator, LES Brown, “janganlah kamu jadikan omongan orang lain sebagai kenyataan di dalam dirimu.” dengan apa kita menjadi omongan orang lain sebagai kenyataan di dalam diri kita? Tentu tak lain adalah dengan menjadikan omongan negatif itu sebagai demotivator.

Jadi, yang perlu kita awasi adalah jangan sampai hinaan itu mengantarkan kita menjadi manusia dengan konsep diri negatif. Pesan ajaran tao mengatakan, “jika hidupmu tergantung pujian atau hinaan, selmanya kamu terancam kegelisahan.”

Jangan juga hinaan itu sebagai distraksi. Distraksi adalah gangguan atau godaan yang bisa mengalihkan perhatian atau kosentrasi kita, lalu memunculkan kebingungan di dalam batin. Karena kita membiarkan datangnya distraksi di dalam diri, akhirnya kita melakukan hal-hal yang tidak penting, tidak utama, atau tidak mendesak tujuan atau sasaran kita. Pendeknya, karena kita terlalu memfokuskan diri pada hinaan orang lain, akhirnya fokus usaha kita ngacau. Distraksi adalah sumber demotivator.

Ada pelajaran yang bisa kita petik dari hasil studi seorang pakar psikologi olahraga dari kanada, Terry Orlick, yang telah melakukan banyak observasi terhadap sejumlah kehidupan atlet yang ia teliti, salah satu temuan yang bisa kita jadikan pelajaran adalah atlet yang kariernya berhenti (ambruk) setelah menang sekali atau kala sekali.

Dalam pertandingan olahraga di dunia mana pun, memang sudah pasti harus ada yang kalah dan harus ada yang menang. Ini sudah menjadi hukum alam, sudah menjadi ketetapan sunatullah yang tidak mungkin lagi diubah. Namun demikian, satu hal yang membedakan ada atlet yang akhirnya menjadi pemenang meskipun ia pernah kalah atau ada atlet yang akhirnya sanggub mengumpulkan prestasi kemenangan setelah kemenangan.

Apa yang membedakan mereka dengan para atlet yang keriernya berhenti di tengah jalan setelah kemenangan sekali atau setelah kekalahan sekali? Temuan penting yang bisa kita pelajari adalah persoalan mengarahkan kosentrasi (fokus perhatian).

Atlet yang berhenti di tengah jalan setelah dirinya menang sekali dan kalah sekali tidak mengarahkan perhatian pikirannya pada peningkatan latihan dan peningkatan kualitas permainan (performance). Begitu menang sekali, mereka terlena oleh pujian penonton, liputn media, dan godaan orang lain.

Atau begitu kalah sekali, mereka tidak tahan endengar kritik, celaan, atau komentar-komentar miring dari orang lain. Karena kosentrasinya bukan lagi pada peningkatan keahlian dan kualitas bermain, maka baik kemenangan atau kekalahannya menjadi demotivator bagi kemajuan kariernya.

Mereka lupa diri oleh pujian dan hancur oleh cercaan. Memang benar, ada orang lain yang menghina, tentu kita merasa telah terhina. Sebaliknya, ketika ada orang lain yang memuja, tentu akan membuat kita merasa melayang.

Tetapi ninaan dan pujian ini tidak secara otomatis membuat kita terlena dan terhina, apabila kita tetap bisa mengontorol diri dan bisa mengolah materinya menjadi motivator.

Kata bijak :
“Kalau kita selalu membalas hinaan, ini hasilnya sama-sama rugi”
“Pembalasan terbaik atas hinaanorang adalah menciptakan kesuksesan yang sempurna.”

Jangan sia-siakan hinaan orang lain “untuk motivasi meraih sukses”

Suatu ketika, saya tanpa sengaja berkesempatan mendengarkan ceramah almarhum Ustadz Jefri al-bukhari atau yang akrab disapa Uje. Walaupun sudah di ujung acara, ada sikap ustadz muda ini yang menginspirasi saya.

Ketika dulu baru memulai menjadi dai, ada beberapa orang yang mencibir atau meragukan kemampuannya. Mungkin mereka melihat latar belakang kehidupan dan pendidikannya. Kepada merekayang merendahkan kemampuannya itu, uje tidak membalas. Biarlah itu menjadi hak mereka. Yang uje lakukan adalah menjadikan semua omongan orang yang tidak enak di dengar itu sebagai cemeti untuk melecut diri. Uje membalas omongn mereka dengan bukti.

Sumber motivasi yang bisa kita gali adalah hinaan orang lain atas kita. Siapa yang tidak pernah di hina orang? Hampir bisa dipastikan semua orang pernah mendapatkan hinaan, entah itu secara lisan, tulisan, isyarat, atau pelakuan.

Meskipun hinaan itu bukan sesuatu yang kita inginkan, tetapi praktiknya terkadang tak bisa dihindari. Meskipun hinaan itu rasanya tidak enak di hati, tetapi ia bisa kita gunakan sebagai sumber motivasi demi kemajuan dan kebaikan diri.

Bagaimana pun juga, adanya orang lain yang menghina atau memuja adalah sesuatu yang di izinkan tuhan untuk ada di muka bumi ini. Andaikan tidak diizinkan , tentulah tidak aka ada. Intinya, karena di izinkan oleh-nya, pasti ada gunanya. Hanya saja, keputusan menentukan untuk apa hinaan itu akan kita gunakan, ini kembali pada pilihan kita. Hinaan bisa kita gunakan sebagai sumber motivasi dan sumber demotivasi, tergantung apa yang kita pilih.

Bahkan al-quran menngajarkan agar kita berlatih mendengarkan omongan orang, lalu kita ikuti mana yang baik, daam bentuk hinaan atau apa saja. Siapa tahu, kita menjadi lebih baik gara-gara itu.
“yang mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah yang diberi petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berakal.” (QS. Az-zumar: 18)

Ken keyes, penulis buku-buku motivasi, pernah menulis sebuah sajak yang kira-kita isinya begini, “semua yang ada dan yang terjadi adalah anugerah yang bisa kita gunakan untuk lebih maju dan membuat hidup kita lebih nikmat serta lebih hidup.”

TIGA ALASAN

Sedikitnya, ada tiga alasan mengapa kita perlu menjadikan hinaan sebagai motivator.

Pertama, tak bisa di kontrol.

Tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang bisa mengontrol omongan orang lain. Mereka bisa mengomong apa saja tentang kita dengan alasan apa saja. Mereka bisa menghina dengan alasan tidak suka, tidak sama, tidak paham, tidak mendapatkan sesuatu dari kita, dan lain-lain. Mereka punya kebebasan untuk beropini tentang kita, seperti kita juga memiliki kebebasan beropini tentang mereka. Karena tidak ada yang bisa mengontrol pasar omongan ini, maka kitalah yang harus bisa mengontrol diri.

Kontrol diri adalah syarat untuk bisa menggunakan dan mengolah. Kalau kita selalu membalas hinaan dengan hinaan, hasilnya sama-sama rugi. Lebih dari itu, kalau kita mala merasa terhina akibat hinaan, maka kitalah yang menderita kerugian dua kali.

Semua orang sudah tau ini, tetapi sayangnya hanya sedikit yang sadar, dan terkontrol. Karena kunci itu ada di tangan kita, maka seperti yang di katakan Eleanor Roosevelt, “tidak ada orang yang membuat diri anda rendah tanpa persetujuan anda.”

Hinaan orang lain itu bisa menjadi motivator dan bisa pula menjadi demotivator, bisa membuat kita tidak bisa tidur, dan bisa membuat kita tetap enak tidur. Ini semua atas persetujuan kita. Makanya orang-orang bijak berpesan : kebahagiaan adlah milik mereka yang bisa menciptakan kebahagiaan di dalam dirinya, bukan krbahagiaan yang bergantung pada pemberian fator-faktor eksternal. Karena, kebahagiaan dan kesenangan yang bersumber dari luar itu sangat tidak pasti dan gampang berubah.

Kedua kebebasan memilih posisi.

Ketika dihinna, dikucilkn, atau pendeknya diperakukan yang menurut kita sangat menyakitkan, sebetulnya pilihan hidup yang tersedia di hadaan kita adalahapakah kita memilih menjadi korbanhanya akan membuat kita rugi sekali. Kebebassan memilih ini terjadi antara kita dengan kita, bukan karena kita dengan orang lain. Mengapa kita dengan kita, bukan dengan orang lain?

Ketika kita mendapatkan perlakuan menyakitkandariorang lain, memang di otak-atik menggunakan teori apa pun, bentuknya tetaplah perlakuan menyakitkan. Tetapi, bukan perlakuan itu yang menentukan posisi kita selanjutnya.

Posisi kita selanjutnya akan ditentukan oleh pilihan kita. Persis seperti kta Elanor Roosevelt di atas : sebetulnya tidak ada manusia di dunia ini yang bisa membuat kita turun derajat atau terhina tanpa persetujuan kita. Kita akan menjadi korban hinaan atau perlakuan negatif orang lain, apabila kita tetap menjadi korban.

Karena sebenarnya yang menentukan posisi (korban atau tidak menjadi korban) itu adalah kita, maka sudah paslah jika kita perlu dilatih diri dalam menggunakan hinaan atau perlakuan negatif orang lain sebagai pendorong diri kearah kemajuan.

Dengan latihan ini, maka akan menghindarkan kita dari posisi hidup sebagai korban (the victims). Menjadi korban perlakuan orang lain berbeda dengan berkorban demi orang lain. Menjadi korban adalah kelemahan dan demotivator, sementara berkorban adalah kekuatan dan motivator.

Ketiga, kebebasan memilih kegunaan.

Semua yang diizinkan tuhan untuk ada dimuka bumi ini mengndung kegunaan. Kegunaan disini netral dalam arti bisa negatif dan bisa positif, tergantung apa yang kita pilih, termasuk dalam hal ini adalah hinaan orang lain. Pasti ada gunanya.

Bahwa ada hinaan yang kita gunakan sebagai demotivator atau motivator, ini kembali pada pilihan kita. Karena yang memilih kegunaan itu kita, maka alangkah ruginya kita menjadikan hinaan itu sebagai demotivator. Sudah kita sakit hati gara-gara hinaan, masih kita tambah dengan pilihan kita untuk memperparah rasa sakit itu. Dengan praktik demikian, maka yang membuat kita merasa sakit bukan saja hinaan melainkan juga kegunaan yang kita pilih.

Bila kita perhatikan, ternyata hinaan telah dijadikan oleh sebagian kecil orang di dunia ini sebagai dorongan pembuktian diri. Saya pernah mewawancarai seprang pengusaha muda yang memiliki motivasi kuat untuk mengembangkan usahanya.

Pengusaha mudah itu kebetulan anak tokoh masyarakat yang sangat dihormati di lingkungannya. Ketika saya tanya apa yang menjadi rahasia di balik semangatnya yang menyala-nyala untuk mengembangkan usaha, ternyata adalah hinaan orang lain yang mengatakan bahwa dirinya tidak sebagus orang tuanya.

Karena merasa “terhina” itulah, maka ia kemudian selalu terdorong untuk membuktikan siapa dirinnya. Frank Sinatra menjadikan hinaan orang lain sebagai motivator. “Pembalasan pembalasan yamg terbaik atas hinaan orang adalah menciptakan kesuksesan yang sepurna.”

Tidak berarti kita harus menunggu hinaan orang lain untuk membuktikan siapa diri kita, tetapi hinaan orang lain bisa kita jadikan motivasi untuk membuktikan siapa diri kita. Pembuktian diri inilah yang paling menentukan.

Menurut teori hidup yang di anut oeh jet li, bintang film laga, bila kita sudah berhasil membuktikan siapa diri kita, maka kita akan mudah mengontrol keadaan dan orang. “pertama, bukalah pintu. Kedua, buatlah orang lain tahu. Ketiga, buktikan siapa dirimu. Jika kau sudah berhasil membuktikan siapa dirimu, maka tak sulit anda mengontrol keadaan. “begitulah jet li berkesimpulan.

Kisah yang dialami oleh jet li pada saat dirinya ingin memasuki kanca persaingan film internasional ini juga sepertinya sering menimpa karyawan baru di suatu perusahaan atau anggota keluarga baru. Umumnya, mereka mengalami perlakuan yang kurang mengenakkan dari para karyawan lain yang sudah lebih lama bekerja. Apalagi jika karyawan baru itu menduduki posisi yang lebih tinggi dari karyawan lama.

Dari praktik hidup yang saya nanti, perlakuan yang dirasakan tidak mengenakkan itu akan reda sendiri ketika karyawan itu bisa membuktkan siapa dirinya. Orang akhinya punya kesimpulan di dalam hatinya. “oh, ternyata si anu itu tidak seperti yang saya sangka selama ini! “ dan lain-lain dan seterusnya.

Thursday, July 7, 2016

Tips tingkatkan kemampuan menangani kegagalan

Ini adalah syarat penting dan mutlak. Jika seseorang menginginkan kesuksesan di bidang apa pun maka yang harus dia miliki adalah kesediaan untuk meningkatkan kemampuan menangani kegagalan. Jika tidak, maka keinginannya untuk meraih kesuksesan itu akan musnah ditelan kenyataan. Bahkan pada keinginan mulia seperti membantu orang lain dan sebagainya, jangan kira anda tidak akan gagal.

Dibawah ini adalah serangkaian proses yang bisa kita tempuh untuk meperbaiki sistem penanganan kita terhadap kegagalan :

Peluang devinisi

Ketika jumlah keggalan Edison sudah mencapai 9.999, seorang wartawan bertanya kepadanya, “apakah anda akan terus melakukan kegagalan sampai 10.000 kali?” apa jawab Edison? Jawabnya begini kira-kira :
“Saya tidak gagal, saya baru saja menemukan sepuluh ribu cara yang belum bekerja.”

“Saya tidak berkecil hati sebab setiapkegagalan adalah bentuk lain dari langkah maju.”

“Hanya karena sesuatu terjadi meleset dari skenario perencanaan, tidak berarti sia-sia tanpa guna.”

Itulah contoh dari penggunaan jurus memperluas definisi kegagalan yang saya maksudkan. Jika eksperimentasi Edison sudah gagal sebanyak 9.999 kali masih belum diakui sebagai kegagalan, lalu berapa yang kita tetapkan untuk kata sendiri?

Semua orang punya kebebasan yang sama seperti edison untuk menetapkan jumlah kegagalan yang akan dijadikan alasan untuk putus asa dan alasan untuk maju terus melawan kegagalan. Berapapun angka yang kita tetapkan, hendaknya perlu kita perluas, perlu kita tambah, dig more little. Kalau dulu kita baru gagal tiga kali kemudian kita jadikan alasa untuk menyerah, maka sekarang perlu kita tambah sesuai keadaan kontekstual diri kita.

Bahkan jika kita sanggup, tak perlu lagi ada angka pembatas yang kita ciptakan di kepala kita, seperti halnya Edison. Selama apa yang kita usahakan belum berhasil, berarti belum pantas kit menyerah.

Bagaimana akhirnya kita tetap belum mendapatkan apa yang kita inginkan, padahal sudah berusaha mati-matian? Jika yang kita tempuh adalah perjuangan, maka sampaipun kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, biasanya hidup ini akan mengganti dengan sesuatu yang setimpal atau bahkan lebih bagus. Kita akan menemukan hal lain yang nilainya setimpal atau lebuh bagus, tergantung usaha kita. Hanyalah salah satu contoh dari tak terhitung misalnya yang dibuat oleh tuhan di dunia ini.

Ia memang gagal menjadi eksekutif perusahaan, tetapi karena ia berusaha terus untuk menjadi lebih baik, maka ia menjadi kartunis. Orang prancis punya pepatah, “sering kali kita mendapatkan sesuatu dari jalan yang mulia kita tolak.”

Cara lain yang bisa kita lakukan untuk memperluas definisi kegagalan adalah mengganti persepsi di kepala kita tentang kegagalan. Bedakan antara usaha yang gagal dan orang yang gagal.

Usaha yang gagal bukkanlah dosa, aib, sesuatu yang bisa kita hindari, dan bukanlah pula sesuatu yang bisa kita pilih. Kegagalan yang menimpa usaha kita adalah konsekuensi dari usaha itu sendiri. Andaikan kita menolak berusaha, tentulah tak akan ada kegagalan.

Namun demikian, menjadi orang yanggagal atau tidak, adalah murni pilihan kita. Kenyataan hidup ini tidak menciptakan kita menjadi orang gagal atau menjadi orang berhasil. Kitalah yng di beri pilihan.

Kalau kita sudah memilih menjadi orang gagal, maka kita kalah oleh diri kita. Pada kondiei seperti ini, sulit mengatakan bila kita bisa membangaun keberhasilan dari kegagalan yang menimpa kita.

Ciptakan makna

Makna adalah apa yang kita ciptakan didalam batin dari kenyataan yang menimpa kita. Makna tidak tergantung dari kenyataan melainkan tergantung pada diri kita. Kenyataan tidak menciptakan makna apa-apa, tetapi kitalah yang menciptakannya. Makna adalah apa yang terjadi didalam diri kita (what is in us), sedangkan kenyataan adalah apa yangterjadi atas kita ( what is on us). Ketika usaha kita gagal, maka kegagalan ini bisa kita maknai tergantung pilihan kita.

Kita bisa menciptakan makna bahwa kegagalan adalah penghancur usaha kita atau kita bisa pula menciptkan makna bahwa kegagalan ini merupakan pembangkit, penunjuk, dan pendorong usaha diri kita. Edison memaknai kegagalan usahanya bukan sebagai sesuatu yang tanpa guna.

Cara kerja yang kita ciptakan di dalam batin kita sangatlah menentukan keputusan kita. Dan keputusan kita sangatlah menentukan tindakan kita atas kenyataan yang menimpa.

Bisa kita buktikan sendiri di lapangan : jika makna positif yang kita ciptakan di dalam batin kita, maka setidak-tidaknya kita tidak malah dibikin hancur oleh kegagalan. Keadaan mental seperti inilah yang sangat kita butuhkan pada saat usaha kita menghadapi kenyataan pahit berupa kegagalan.

Hal ini tentu berbeda denngan ketika kita secara sadar atau tidak sadar menciptakan makna negatif dalam batin, semacam kesimpulan bahwa kegagalan merupakan penghancur diri dan usaha kita. Jangankan kegagalan yang bertubi-tubi, terhadap kegagalan kecil saja, mungkin kita sudah kala.

Jadilah Pemenang

Doktrin tao mengajarkan dua hal kepada kita. Pertama, kita harus menjadi warrior (jagoan) bagi diri sendiri. Kitalah yang harus bertanggung jawab untuk menyukseskan usaha sendiri. Kitalah yang harus berusaha lebih dulu untuk memperbaiki diri. Kitalah yang harus memperjuangkan ide, gagasan, dan keinginan kita. Dalam tradisi seorang warrior, merebut tanggung jawab bukanlah sesuatu yang bisa dipilih antara mau dan tidak mau, antara suka dan tidak suka. Tanggung jawab itu diterima seratus persen.

Warrior adalah sosok yang merebut tanggung jawab tanpa syarat, bukan membiarkan tanggung jawab. Nogame, seorang atlit yang berprestasi menjelaskan, “bagi seorang jagoan, tanggung jawab personal bukan lagi menjadi pilihan, antara menerima atau menolak, melainkan harus di terima seratus persen sebagai amanat.”

Kedua, kita harus menjadi peyembuh (healer) bagi diri sendiri. Kapan kita harus menjadi penyembuh? Yang paling dibutuhkan adalah pada saat usaha kita sedang tertimpa kegagalan. Saat itulah tak ada yang bisa menyembuhkan diri kita kecuali kita sendiri.

Cara yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkan adalah :
  • > Berpikir positif
  • > Mengambil keputusan positif
  • > Melakukan hal-hal yang positif
  • > Menemukan orang yang positif dan bisa mempositifkan kita
  • > Membaca buku
  • > Melakukan ritual ibadah tertentu yang secara pengalaman sudah terbukti buat kita
  • > Dan lain-lain
Koreksi maju

Koreksi maju adalah koreksi yang kita lakukan pada saat kita mengusahakan sesuatu untuk maju. Koreksi maju adalah jenis koreksi yang hasilnya akan kita gunakan untuk mendorong dan memperbaiki langkah. Koreksi maju adalah jenis koreksi yang membangkitkan, mencerahkan, dan menunjukkan diri kita kearah yang lebih baik.

Setiapkegagalan yang menimpah usaha kita, selau ada sesuatu yang kurang, ada sesuatu yang menyimpang, dan ada sesuatu yang belum cocok. Mengetahui apa yang kurang lalu kita lengkapi, mengetaahui apa yang menyimpang lalu kita luruskan, dan mengetahui apa yang meleset lalu kita ccocokkan adalah bagian penting dari koreksi kita atas kegagalan.

Lakukan sesuatu di bidang anda, tetapi koreksilah apa yang salah, lengkapilah apa yang kurang, luruskan langkah anda ketika menyadari ada penyimpangan. Lakukan sesuatu di bidang anda, tetapi jangan lupa untuk bangkit ketika kenyataan pahit membuat anda roboh. Lakukan sesuatu di bidang anda, tetapi jangan lupa untuk menaikkan standar pencapaian ketika sasaran itu sudah anda capai.

Menemukan perbedaan

Menurut trevor bentley, penulis buku kreativitas (1997), untuk mengubah kegagalan menjadi keberhasilan dibutuhkan dua hal, yaitu : Pertama, sikap mental positif yang menegaskan bahwa anda tidak kalah oleh kegagalan (pemenang). Kedua, mengetahui dan memiliki kemampuan untuk melakukan lima hal, yaitu :

1. Menyadari atas apa yang terjadi.
2. Mengetahui apa yang bisa anda pelajari dari kegagalan.
3. Mengetahui apa yang harus dilakukan secara berbeda atau melakukan hal yang berbeda.
4. Melakukan lagi
5. Mengulangi langkah dari 1 sampai 4 ketika kegagalan menimpa.

Dengan menjalankan langkah-langkah di atas, setidak-tidaknya kita tidak menjadi orang gagal akibat dari usaha kita yang gagal. Setidak-tidaknya, kemampuan kita untuk menghadapi kegagalan semakin bagus, semakin positif dan semakin baik.

Motivasi dari kegagalan untuk meraih kesuksesan

Kegagalan adalah sumber motivasi, jika kita mau atau jika kita memilihnya begitu. Yang bisa kita lakukan untuk menggali motivasi dari kegagalan itu antara lain :

Memperbaiki Persepsi

Diotak-atik menggunakan teori apapun, di bahas dengan ayat manapun, kegagalan tetaplah kegagalan : rasanya tidak enak, kedatanganya tidak kita inginkan, dan mengharap kedatanganya juga dilarang.

Namun demikian, hidup kita lebih sering berurusan dengan bgaimana kita menghadapi kenyataan, entah itu pahit atau manis, lalu mengolahnya supaya yang manis bertambah manis dan yang pahit bisa menjadi manis.

Untuk mengolah itu dibutuhkan persepsi yang sehat. Persepsi memang tidak bisa mengubah apa-apa, tetapi untukmengolah hal yang pahit supaya bisa menjadi manis.

Untuk mengolah itu dibutuhkan persepsi yang sehat. Persepsi memangtidak bisa mengubah apa-apa, tetapi untuk mengolah hal yang pahit supaya menjadi manis, dibutuhkan persepsi yang sehat.

Terkait dengan masalah persepsi ini, ada yang memandang kegagalan sebagai sebuah konsekuensi yang mengandung materi untuk dipelajari guna meraih keberhasilan yang kita inginkan.

Sementara ada juga yang memandang kegagalan sebagai sebuah peristiwa luar biasa yang sebab-sebabnya di misterikan. Artinya, kita tidak ingin tahu apa sebabnya dan bagaimana supaya itu tidak terjadi lagi. Bahkan, ada yang memandang kegagalan sebagai siksa dari tuhan yang datang dari satu paket yang disebut takdir atau nasib dan sudah tidak bisa diotak-atik lagi.

Seperti apakah persepsi yang sehat itu bisa dijelaskan? Persepsi yang sehat adalah pandangan-pandangan yang dapat mempositifkan, mencerahkann pikiran, perasaan, dan hati, yang dapat mendorong kita supaya mengambil tindakan positif semacam kegagalan maju, berani gagal dan tak takut sukses, atau tetap menolak menjadi orang yang gagal meski thuusaha kita gagal.

Thomas alva edison mengajarkan begini : “ada tiga hal mendasar untuk mencapai segala yang anda inginkan, yaitu usaha sungguh-sungguh, konsentrasi yang memfokus, dan menggunakan akal sehat.” akal sehat saat menghadapi kegagalan menjadi penting.

Mahatma gandi berpesan, “jagalah muatan pikiranmu agar tetap positif, karena muatan itu akan menjadi muatan’ jagalah ucapan,u supaya tetap positif, karena ucapan itu akan enjadi perilaku. Jagalah perilakumu, karena perilaku akan menghasilkan kebiasaan. Jagalah kebiasaanmu, karena kebiasaan akan menjadi seperangkat nilai-nilai yang kamu yakini benar. Jagalah nilai-nilai itu, karena nilai itu akan mencetak nasib.”

Kontrol emosi

Kegagaln bisa digunakan sebagai dorongan untuk meraih keberhasilan dan dorongan untuk menjadi orang gagal. Dari kegagalan itu bisa kita ciptakan kegagalan maju dan kegagalan mundur.

Dari kegagalan, bisa kita ciptakan keberanian untuk sukses dan bisa kita ciptakan ketakutan untuk sukses. Semua itu tergantung pilihan kita. Life is choice. Yang tidak bisa kit pilih adalah konsekuensi pilihan kita.

Pertanyaanya, adakah orang yang sengaja menjadi orang yang gagal? Adakah orang yang sengaja menciptakan kegagalan mundur? Adakah orang yamg ingin terkena penyakit takut sukses.

Pasti tidak ada. Semua orang ingin berhasi, namun jika dalam praktiknya kita temukan banyak hal yang bertentangan, tentu ini ada penyimpangan. Lalu, apa yang menyebabkan penyimpangan itu? Salah satunya adalah lupa, tidak sadar, lengah, atau dikuasai oleh ledakan emosi pertama yang dipenuhi hawa nafsu, dilanjutkan dengan memunculkan emosi kedua, ketiga, dan keseribu dengan bentuk yang sama.

Atas alasan inilah, maka diperlukan pengontrolan emosi. Biarpun kita menginginkan keberhasilan tetapi kalau emosi kita di kontrol oleh hawa nafsu, bukan di kontrol oleh kesadaran, maka keinginan kita itu akan kalah oleh hawa nafsu itu.

Mengontrol artinya kita yang menguasai, kita yang mengatur, kita yang menyuruh, kita yang melarang. Dengan begitu, kita akan punya pilihan untuk menciptakan emosi kedua yang memperbaiki batin, bukan malah memperburuk diri kita.

Meskipun kita tetap kesal, kecewa, dan terluka pada saat usaha kita gagal, tetapi kekecewan, kekesalan dan trauma itu tidak berlanjut terlalu lama atau selamanya. Meskipun kita tetap jengkel apabila ada orang lain yang mengagalkan usaha kita, tetapi kejengkelan itu tidak sampai menggelapkan diri kita. Beberapa studi ilmiah menemukan, yang sering membuat orang gagal untuk kedua sampai keseribu kalinya setelah mengalami kegagalan pertama antara lain :
  • > Memperpanjang perasaan buruk kepada diri sendiri.
  • > Membiarkan ketakutan sehingga tak berani lagi.
  • > Membiarkan kekesalan mengalahkan keinginan.
  • > Membiarkan keragu-raguan mengalahkan keyakinan.
  • > Membiarkan keras kepala mengalahkan kemauan keras untuk maju.
Semua itu berumber dari kegagalan kita dalam mengontrol emosi. Karenanya, Nabi Muhammad mengingatkan kita : bentuk jihad yang paling besar adalah jihad melawan nafsu kita sendiri.

Nabi juga pernah berpesan : keperkasaan akan dibuktikan dengan kemampuan kita menguasai diri pada saat marah. Marah adalah hal yang manusiawi. Ia akan berguna kalau kita bisa menguasai diri, tetapi akan membahayakan apabila kita dikuasai hawa nafsu saat marah.

Jalankan beragam opsi

Untuk menjadikan kegagalan sebagai sumber motivasi dan sumber aksi dalam meraih keberhasilan yang kita tuju, maka kita perlu membuka pikiran dengan berbagai pilihan dan opsi.

Ada banyak cara untuk mencapai tujuan. Ada banyak pintu untuk memasuki rumah. Ada banyak jalan untuk mencapai sasaran. Karena itu, jangan sampai kita digelapkan oleh satu cara yang sudah nyata-nyata gagal, satu jalan yang sudah nyata-nyata buntu, dan satu pintu yang sudah nyata-nyata tertutup.

Cara yang bisa kita lakukan antara lain :
  • > Memunculkan banyak pertanyaan yang mmembangkitkan, mencerahkan, dan mendorong kita untuk mendatangkan jawaban positif.
  • > Membaca buku, majalah, atau materi yang bermanfaat sesuai dengan keadaan kita hari ini.
  • > Melihat orang lain sebanyak mungkin dan menyerap pelajaran positif dari mereka.
Dengan memiliki banyak opsi, maka langkah kita untuk maju masih tetap termotivasi. Hal ini berbeda dengan ketika kita hanya punya satu pilihan dan itu kita pertahankan hidup mati. Begitu kita mendapati hal-hal yang tidak kita inginkan, sering kita membuat pikiran, perasaan, dan hati kita gelap.

Intinya, AL-quran berpesan agar kita menggunakan atau memenangkan akal sehat ketimbang hawa nafsu. Al-quran mengingatkan :

HAI DAUD, SESUNGGUHNYA KAMI MENJADIKAN KAMU KHALIFAH (PENGUASA) DI MUKA BUMI, MAKA BERILAH KEPUTUSAN (PERKARA) DI ANTARA MANUSIA DENGAN ADIL DAN JANGANLAH KAMU MENGIKUTI HAWA NAFSU, KARENA IA AKAN MENYESATKAN KAMU DARI JALAN ALLAH. SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG YANG SESAT DARI JALAN ALLAH AKAN MENDAPAT AZAB YANG BERAT, KARENA MEREKA MELUPAKAN HARI PERHITUNGAN.” (QS. Shad : 26).