Monday, July 4, 2016

Apakah anda takut sukses setelah gagal

Ini juga jangan sampai terjadi pada kita. Kalau pun itu sudah terjadi, jangan biarkan itu terjadi atau berlangsung terlalu lama. Apa itu takut sukses? Adakah orang yang takut sukses? Menurut devinisi profesor Schein, guru besar manajemen di Sloan Schol Of Management : takut sukses adalah perasaan yang mengajak kita untuk menghindari usaha setelah kita gagal. Inilah penyakit yang di sebut takut sukses.

Kita menjadikan kegagalan sebagai alasan (pembenar) untuk menghindari usaha yang merupakan syarat mutlak meraih keberhasilan. Konon, penyakit inilah yang paling banyak diderita oleh manusia.

Tidak ada usaha yang selamat dari risiko antara gagal dan berhasil. Ketika kita menghindari usaha, sama artinya dengan menghindari (takut) berhasil. Kalau orang selalu takut gagal, lalu ketakutan diwujudkan dengan tidak melakukan sesuatu, maka orang itu takut sukses.

Kenapa? Mana ada kesuksesan yang diraih dengan tidak melakukan sesuatu? Mana ada kesuksesan tanpa kegagalan? Tak ada kamusnya kita jumpai kesuksesan tanpa kegagalan.

Setiap orang yang berusaha lalu gagal, pastilah sedikit banyaknya akan megeluarkan letupan perasaan yang bernada tidak berdaya, kecewa, atau putus asa. Ini manusiawi selama kita lakukan sebagai reaksi sesaat yang sifatnya sementara.

Tetapi hal yang manusiawi ini yang akan membahayakan, jika sudah berlanjut pada tingkat yang bisa melahirkan kemalasan, ogah-ogahan, dan sikap setengah-setengah. Rasa tidak berdaya pada saat kita menghadapi hal-hal yang membuat kita “DOWN” adalah ledakan emosi pertama yang sifatnya wajar dan manusiawi.

Sedangkan kemalasan, ogah-ogahan, dan semacamnya adalah produk dari ledakan emosi kedua yang kita ciptakan sendiri. Ledakan emosi kedua inilah yang sering membahayakan kita. Kegagalan hanya membuat kita down untuk sementara. Tetapi kemalasan akan membuat kita batal mendapatkan keberhasilan.

Karena itu, doktrin olahraga yang mendasar bukanlah bagaimana mengalahkan lawan di lapangan, melainkan bagaimana mengalahkan diri sendiri dalam proses latihan.

Pertandingan yang paling menentukan adalah pertandingan melawan diri sendiri. Ini punya kaitan dengan masalah ledakan emosi kedua di atas. Atlit yang kalah oleh dirinya akan menciptakan ledakan emosi kedua yang malah memperparah emosi pertama (demotivator).

Kekalahan mereka di lapangan akan mereka jadikan sebagai alasan untuk malas latihan dan malas memperbaiki diri. Akibatnya, kalah lagi dan kala lagi. Sedangkan atlit yang sudah berhasil mengalahkan dirinya, akan menciptakan ledakan emosi kedua yang memperbaiki atau melawan emosi pertama (motivator).

Kemenangan mereka di lapangan dijadikan sebagai motivator untuk meningkatkan, sedangkan kekalahan akan di jadikan sebagai motivator untuk memperbaiki. Menurut sunatullah, atlet kelompok ini akan menjadi “the best”, meskipun tidak harus meeenjadi juara sepanjang masa, seperti mohammad ali, susi susanti dan seterusnya.

Dalam meraih sukses Jangan ada kegagalan mundur

Meski kegagalan itu telah banyak mengajarkan orang untuk meraih kesuksesan, namun dalam praktiknya tidak sedikit yang justru semmakin gagal setelah mengalami kegagalan itu menjadi demotivator. Jangan sampai kegagalan itu menghancurkan kita.

Sebaliknya, kita harus menciptakan kegagalan maju (failing forward). Menurut john maxwell, penulis dan trainer leadership dari Amerika : kegagalan maju adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali setelah ambruk, kemampuan mempelajari kegagalan atau melangkah lagi menuju arah yang lebih bagus.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan kegagalan mundur? Yaitu ketika menggunakan kegagalan yang menimpa usaha kita sebagai materi yang membuat kita makin gagal, makin mundur, atau makin hancur, cirinya yang paling menonjol adalah :

Pertama, menolak tanggung jawab atau membiarkan.

Biasanya, penolakan itu kita lakukan dalam bentuk kesimpulan batin dimana yang bertanggung jawab atas kegagalan bukanlah kita melainkan pihak lain.

Washington irvin menyimpulkan bahwa 90 persenkegagalan kita disebabkan karena kita membiarkan tanggung jawab kita (self-excuse). Kita menolak mengoreksi, menolak untuk bangkit lagi, dan seterusnya.

Kedua, mengulangi kesalahan yang sama.

Mengapa kesalahan yang sama terulang? Jawabnya karena mereka enggan mempelajari kesalahan dan enggan menciptakan perubahan.

Nabi muhammad berpesan bahwa tindakan yang bagus dari orang yang berbuat salah adalah menarik diri dari kesalahan itu (at-tawabun). Caranya tentu bermacam-macam, misalnya mempelajari dan berkomitmen untuk tidak mengulangi.

Anda bisa lihat, semua orang penah salah. Perbedaan sejati antara orang-orang yang biasa-biasa dan orang luar biasa adalah persepsi dan respon mereka terhadap keasalan. Kata dale Carnegie, seorang motivator terkenal, “orang berprestasi akan mendapaatkan keuntungan dari kesalahanya dan mencoba lagi dengan cara yang berbeda.

Ketiga, berharap mudah-mudahan cukup sekali ini saya gagal, cukup sekali ini rugi, atau cukup sekali ini salah.

Harapan demikian tidak sejalan dengan sunatullah dan tidak rasional. Meskipun kita dilarang berharap gagal, rugi dan salah, bahkan tidak boleh menganggab enteng atau menganggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa, tetapi kalau kita sudah mentok harapan itu, maka biasanya ini punya konsekuensi takut melangkah.

Hindarilah kegagalan sejauh munggkin, tetapi jangan takut melangkah. Hindarilah kerugian, tetapi jangan kapok berbuat baik hanya karena pernah rugi. Hindarilah kesalahan, tetapi jangan takut melangkah gara-gara takut salah.

Keempat, terbayang-bayang oleh kegagalan masalalu.

Pengalaman pahit masalalu kita jadikan belenggu yang membatasi, bukan guru yang membimbing kita. Akhirnya, yang membuat kita gagal bukan saja kegagalan masa lalu, tetapi keputusan kita untuk membiarkan diri tenggelam dalam penderitaan dalam masa lalu itu.

Kelima, menggunakan nafsunya untuk menghadapi kegagalan.

Karena nafsu kita angkat sebagai dewa sisalam diri kita, maka ilmu pengetahuan, kesadaran, dan pengalaman kita tumpul, lumpuh, dan kalah oleh nafsu itu.

Imam syafi’i berpesan ; ilmu kita tidak sanggup memberikan petunjuk kalau kita sudah kala oleh nafsu. Para pengusaha yang sudah berhasil mengalahkan tantangan yang menghambat bisnisnya, mereka menggunakan pengetahuan, kesadaran akan tujuan, dan pengalaman untuk menghadapi kegagalan.

Pak bob sadino punya resep menjalankan usaha seperti ini, “Cukup satu langkah awal. Ada kerikil saya singkirkan. Melangkah lagi. Bertemu duri saya sibakkan. Melangkah lagi. Terhadang lubang saya lompati. Melangkah lagi. Bertemu api saya mundur. Melangkah lagi. Berjalan terus dan mengatsi masalah.

Sunday, July 3, 2016

Untuk meraih sukses “Ambilah dari kegagalanmu”

Kegagalan yang kita alami juga bisa menjadi sumber motivasi. Caranya? Gunakanlah kegagalan anda untuk melakukan sesuatu dan jangan menggunakannya untuk membiarkan sesuatu.

Dalam praktik hidup sehari-hari, kegagalan merupakan kepastian atau konsekuensi usaha. Semua usaha manusia untuk meraih keinginannya, pasti akan menghadapi kegagalan yang tidak bisa dipilih.

Merujuk pada al-quran, kegagalan bisa dikategorikan sebagai ujian. Namun ujian, pasti ada tujuannya.

“DAN SESUNGGUHNYA KAMI BENAR-BENAR MENGUJI KAMU AGAR KAMI MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG BERJIHAD DAN BERSABAR DIANTARA KAMU ; DAN AGAR KAMI MENYATAKAN (BAIK BURUKNYA) HAL IHWALMU” (QS. Muhammad : 31)

Meski tidak semua kegagalan akan melahirkan keberhasilan, tetapi semua keberhasilan pasti dibangun dari kegagalan. Oleh karena itu, sepertinya bukan hal yang mengada-ada apabila kita memasukkan kegagalan ke dalam daftar sumber motivasi.

Malah menurut saya, setiap usaha yang hendak kita wujudkan, mestinya lebih dulu mengenal “hukum usaha” yang kira-kira poin-poin pentingnya seperti dibawah ini :

Pertama, kegagalan itu sebab-sebabnya tidak bisa di prediksi dan di hitung dengan jari.

Usaha kita bisa gagal karena ulah kita sendiri, ulah orang lain, atau “ULAH” keadaan yang partikulasinya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kalau kita salah melakukan sesuatu, maka usaha kita gagal. Meskipun kita sudah benar melakukan sesuatu itu, tetapi kalau orang yang kita ajak bekerjasama menyimpang, maka usaha kita juga gagal.

Meskipun kita dan orang yang kita ajak bekerjasama itu sudah benar dan benar-benar melakukan sesuatu, tetapi kalau keadaan berkata lain, usaha kita juga gagal. Perugahan keadaan bisa menjadi sumber kegagalan.

Kedua, kegagalan merupakan akibat dari yang tidak bisa kita pilih.

Andaikan kita punya kemampuan memilih antara berhasil atau gagal, tentu tak ada yang mau memilih kegagalan. Pastilah kita akan memilih keberhasilan.

Bebagai buku yang sudah di tulis oleh para ahli mengatakan : Kegagalan tidak berarti bertujuan untuk menghapuskan kegagalan dari dunia ini. Teori, konsep, strategi atau buku tentang kegagalan hanya bermain pada wilayah bagaimana mengantisipasi dan memperlakukanya. Adapun kegagalan sendiri tetaplah ada sampai nanti hari kiamat. Selama ada usaha, selama itu pula ada kegagalan.

Ketiga, kegagalan itu pernah menimpah semua umat manusia didunia ini, baik dari kelompok anusia berprestasi tinggi maupun yang berprestasi rendah.

Semua orang yang bertekad, mencoba,atau coba-coba mengusahakan keinginannya, pasti akan menghadapi kemungkinan antara meleset (gagal) dan tepat sasaran (berhasil). Bahkan sepertinya ada perbandingan yang sempurna antara kegagalan dan keberhasilan. Semakin banyak kesuksesan yang diraih seseorang, semakin banyak pula kegagalan yang dialami.

Karena itu, ford, kennedy, dan lain-lain pernah menyatakan tantangan terbuka yang kira-kira begini, “TUNJUKKAN SAYA ORANG YANG TIDAK PERNAH GAGAL, AKAN SAYA TUNJUKKAN ORANG YANG TIDAK PERNAH MEMPERJUANGKAN GAGASANYA.”

Keempat, kegagalan merupakan materi petunjuk yang menawarkan kesempatan untuk memilih.

Kalau kita memilih menggunakan petunjuk itu sebagai penerang atau pembangkit, maka materi itu akan menunjukan langkah kita pada kebangkitan dan pencerahan. Tapi kalau kita membiarkan atau menolak menggunakan petunjuk itu, maka langkah kita akan berpotensi sesat atau disesatkan oleh kegagalan. Merujuk pada penjelasan agama : kegagalan bisa kita masukkan dalam kategori musibah (sesuatu yang kita inginkan).

Semua musibah, ujian, dan cobaan itu ada karena atas izinnya. Bahkan tidak ada daun yang jatuh kecuali atas izin-nya. Karena atas izin-nya, maka dipastikan tidak terjadi sia-sia tanpa guna. Pendeknya, ada pelajaran didalamnya. Cuma, pelajaran itu tidak lansung secara otomatis mengajarkan sesuatu kepada kita. Pelajaran yang terdapat dalam sistem “pendidikan tuhan” berbeda dengan pelajaran yang terdapat di sistem pendidikan nasional.

Berdasarkan kebisaan, pendidikan tuhan memberikan ujian lebih dulu sebelum memberikan materi. Materi dalam pendidikan Tuhan sifatnya “tidak diberikan” (non given) seperti halnya materi pelajaran di sekolah, melainkan harus digali dengan membuka mata pikiran dan mata hati (achieved).

Kelima, kegagalan pada hakikatnya tidak menentukan nasib kita berikutnya. Semua manusia pernah mengalami kegagalan, tetapi apa yang kita usahakan setelah kegagalan itulah yang menentukan nasib kita. Jika kita memilih pikiran, sikap, dan tindakan yang positif maka pilihan itu akan mengakibatkan hal yang positif.

Dengan kat lain, kegagalan itu bisa menjadi sumber motivasi (motivator) dan bisa pula menjadi sumber demotivasi (demotivator). Ini bukan tergantung pada kegagalanya, melainkan pada apa yang kita pilih dan untuk apa kita menggunakan kegagalan itu. Pendeknya, semua kembali pada keputusan kita.

Sudahbanyak buku yang bercerita tentang kegagalan thomas alva edison, kegagalan para pahlawan kita dulu, kegagalan para pengusaha yang sekarang ini berhasil seperti kolonel sander, pendiri restourant cepat saji KFC konon, pak tua itu memulai usaha setelah dirinya pensiun dari militer.

Karena tidak ada restoran yang mau menerima resepnya dalam menggoreng ayam, pak tua ini sering tidur di mobilnya. Hingga dalam hitungan seribu sekian kali, barulah ada restoran yang mencoba resep menggoreng ayam ala Kolonel Sander.

Jadilah KFC seperti yang sekarang ini. Menurut rick pitini, seorang pelatih NBA, “kegagalan sebenarnya kita butuhkan. Kegagalan merupakan pendorong. Semua yang saya pelajari dari pelatihan, saya mempelajarinya dari kegagalan.”

Saturday, July 2, 2016

Langkah membangun konsep diri untuk menggapai sukses

Bagaimana membangun konsep diri yang memperkuat itu? Kita tidak bisa mengubah konsep diri dengan mengubah kesimpulan. Bisa-bisa malah jadi orang yang pura-pura atau tidak akurat (minder atau over), merasa bisa atau merasa hebat, padahal belum memiliki kehebatan.

Jadi bagaimana? Untuk membangun konsep diri yang kuat, kita membutuhkan personal system (sistem personal). Sistim personal ini dapat kita bangun dengan cara-cara dibawah ini :

Pertama, belief (yakin)

Yakin bahwa anda terlahir didunia ini untuk suatu tujuan. Yakinlah bahwa tuhan telah memberikan sekian kapasitas yang cukup untuk mencapai suatu tujuan itu. Supaya keyakinan anda kuat, anda harus bisa membuktikannya. Buktikan potensi anda. Melihat bukti akan memperkuat keyakinan anda. Untuk bisa melihat bukti, anda harus yakin lebih dulu.

Kedu, value (nilai-nilai)

Anda tidak basa membuktikan keyakinan itu hanya dengan omomngan dimulut. Keyakinan itu hanya bisa dibuktikan dengan berpedoman pada nilai-nilai kebenarannya sudah tidak bisa dibantah siapa pun.

Misalnya, anda meyakini bahwa setiap perjuangan manusia itu pasti mendapat balasan atau anda bahwa meyakini kegagala bukanlah kiamat yang mengakhiri langkah anda, melainkan sebuah ujian untuk kesuksesan. Yakinilah dan buktikan hasilnya

Ketiga, perlu ada target atau standar prestasi yang terus anda perjuangkan.

Seiring dengan bertsmbahnya prestasi anda, akan ada konsep perbaikan diri anda. Target ini bisa anda buat berdasarkan keinginan (generative) atau berdasarkan keadaan (adaptative).

Keempat, penguasaan.

Keyakinan dan target tidak bisa mewujudkan dirinya sendiri. Agar bisa terwujud, kita membutuhkan keahliah yang mencakup, antara lain pengetahuan, pengalaman, penguasaan atau pendidikan. Ini juga nanti akan memperbaiki konsep diri.

Kelima, perlawanan internal.

Perlawanan ini penting ketika kita menerima ungkapan dari orang lain atau lingkungan yang kurang mendukung usaha kita untuk membangun konsep diri positif. Hanya saja, perlawanannya bukan dimuntahkan ke luar, melainkan perlu diledakkan ke dalam supaya ada dorongan untuk berubah.

Membangun konsep diri butuh perjuangan, yaitu membuktikan diri, bukan semata mengganti kesimpulan. Kalau hanya mengganti, ini malah bisa membuat anda salah penilaian. Atau pede, anda hanya berssifat temporer. Yakinlah, lalu buktikan apa yang anda yakini. Tanpa pembuktian, pede kita hanya sebuah kesemuan.

TIGA RAMBU-RAMBU PENTING

Pertanyaan yang penting untuk ditemukan jawabanya adalah, agar apa yang bisa kita lakukan agar kita tidak menjadi korban ketidak puasan? Sebagai salah satu pilihan, mungkin kita bisa menerapkan berikut ini sebagai pembelajaran.

Jangan mematok kesempurnaan.

Tidak ada manusia yang sempurna, tiak ada hasil manusia yang sempurna. Tidak ada proses usaha yang sempurna. Tidak ada keadaan yang benar-benar sempurna.

Kalau dilihat dari “kaca mata berpikit Tuhan”, ketidak kesempurnaan tentu sebuah kesempatan emas buat kita untuk selalu meraih yang lebih sempurna. Andaikan ketidak kesempurnaan ini di hapus oleh tuhan, maka tidak ada lagi kreativitas, inovasi, improvisasi, dan seterusnya.

Hidup manusia malah menjadi terbatas dengan tidak adanya kekurangan. Karena kesempurnaan ini tidak kita miliki, bukan berarti kita boleh mempertahankan kekurangan dengan keras kepala dan kebodohan. Untuk itu yang perlu kita lakukan adalah kesempurnan apa yang belum sempurna dan berusaha selalu menyempurnakannya.

Lakukan sesuatu tetapi jangan lupa menyempurnakan proses. Lakukan sesuatu tetapi jangan lupa menyempurnakan hasil. Lakukan sesuatu tetapi jangan lupa membekali diri dengan keahlian yang lebih bagus. Petuah manajemen bilang “Even the best can be improved.” karya yang paling bagus sekalipun masih bisa diperbaiki.

Ketika kita mengharapkan sesuatu yang harus sempurna dan tidak adalagi upaya penyempurnaan setelah itu (perfeksionis hasil), seringkali ini membuka peluang bagi ketidak puasan untuk menguasai diri kita.

Ketidaksempurnaan itu tidak mendorong kita untuk menyempurnakan, melainkan mendorong kita untuk meninggalkan, mematahkan semangat, dan lain-lain. Bahkan dalam teori kreativitas dikatakan : pola berpikir demikian bisa membunuh kreativitas.

Jangan mempertentang gap

Semua orang pasti menghadapi gap, baik dalam bentuk pertentangan antara apa yang diinginkan dan apa yang dihadapi, antara harapan dan kenyataan, juga antara idialitas dan realitas. Kita menginginkan suatu yang “WAH”, tetapi kenyataanya malah menghadapi yang “ADUH”.

Kita mengharapkan diri kita ini sudah begini-begitu, tetapi praktinya masih begini-begini saja. Gap ini sesuatu yang di izinkan tuhan untuk ada dimuka bumi ini. Karena atas izin-nya, pastilah ada gunanya. Apa kegunaannya? Tentang kegunaan ini tentu kembali pada apa yang kita pilih.

Kita bisa menjadikan gap itu sumber motivasi untuk melangkah maju dan bisa menjadikanya sebagai sumber demotivator. Satu kenyataan itu bisa kita pilih sebagai dorongan untuk maju, mandek, dan mundur, tergantung yang kita pilih.

Gap akan menjadi demotivator ketika kita malah mempertentangkanya. Karena kenyataan itu berbeda dengan keinginan, lantas perbedan ini kita jadikan sebagai materi yang membuat kita tidak bahagia dengan hidup ini.

Karena ilmu itu berbeda dengan praktik, lantas kita malas mencari ilmu. Karena orang lain tidak sama dengan kita, lantas kita malah menambah jumlah orang yang kita kenal. Inilah arti pertentangan dalam praktik hidup.

Mempertentang gap ini menurut studi para ahli di bidang karier bisa menumbuhkan kebencian diri, kebencian profesi, dan kebencian pekerjaan, yang kemudian memunculkan apa yang sering kita sebut dengan penyakit konflik diri.

Ketika didalam batin kita berkecamuk perng yang tidak sanggup kita damaikan, maka seluruh energi dan kekuatan akan kita gunakan untuk memikirkan dan merasakan perang yang membuat batin kita gelap.

Kalau batin sudah gelap, maka langkah kita juga mandek, sebaliknya, gap akan menjadi sumber motivasi dan sumber dinamika hidup apabila kita sanggup mendamaikannya dengan usaha perbaikan, penyempurnaan, dan kreativitas.

Karena kenyataan itu berbeda dengan apa yang kita inginkan, maka supaya keinginan kita menjadi kenyataan, diperlukan usaha yang terus menerus, kreativitas, penyesuaian, dan sinergi.

Dengan begitu, kita hidup menjadi dinamis lahir dan batin. Coba bayangkan, andaikan keinginan itu dibikin sama dengan kenyataan oleh tuhan! Tentu seninya hdup ini akan hilang dan tidak ada pembeda derajat antara orang yang sungguh-sungguh dengan pemalas, antara orang yang punya ilmu dengan orang yang tidak berilmu, antara orang yang benar dan orang yang menyimpang.

Jadikan sebagai “Defining Moment”

Jadikan munculnya gap antara apa yang anda inginkan dan kenyataan yang anda hadapi sebagai titik awal atau momen yang mendorong perubahan (defining moment). Jadikan ketidaksempurnaan yang anda jumpai didalam diri anda, di dalam usaha anda, sebagai kekuatann yang mendorong anda untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih bagus.

Jadikan kebodohan sebagai defining moment untuk menambah pengetahuan. Jadikan kesalahan sebagai dorongan untuk menemukan apa yang perlu dikoreksi. Jadikan kegagalan sebagai dorongan untuk membuktikan diri. Jadingan kekurangan sebagai dorongan untuk melengkapi diri.

Dengan cara seperti ini, walaupun kita tidak bisa mewujudkan hasilnya secara langsung dan semudah orang yang membalikkan tangan, tetapi minimal akan mencerahkan batin kita. Batin yang cerah akan membuat kita cerah. Langkah yang cerah akan manjadi jalan untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus.

Hal ini akan berbeda dengan kita menempuh cara-cara sebaliknya. Kita sudah rugi, ditambah dengan cara yang merugikan. Jadilah kita mengalami kerugian ganda.

BERBAGAI TEORI PERUBAHAN

Untuk membuktikan bahwa ketidakpuasan itu telah dimanfaatkan untuk hal yang positif, kita bisa melihatnya banyak teori-teori perubahan, baik untuk personal atau institusional. Kita bisa lihat di bawwah ini.

Teori 1 : Self directed learning theory

Teori ini dikembangkan oleh Richard E. Boyatzi, seorang pakar manajemen (1999). Isi teori ini adalah kita semua bisa berubah kearah yang lebih baik dengan cara :

1. Munculnya ketidakpuasan atau dorongn untuk berubah dari keadaan aktual anda hari ini (actual condition).
2.Perjelas keadaan yang benar-benar anda inginkan (ideal condition).
3.Perjelas apa yang benar-benar bisa anda lakukan untuk berubah, dengan menggunakan apa yang sudah ada, dari mulai hari ini (reasonable action).

Hanya saja, jika kita ingin menerpkan teori di atas, hendaknya kita jangn sampai menggunakan nafsu yang tidak terarah. Kenapa? Biasanya, dorongan nafsu itu akan menyeret kita pada hal-hal yang ekstrem dan itu salah.

Reformasi yang terjadi di indonesia sering disebut reformasi yang salah arah, karena keinginan untuk berubah hanya dilandasi agar supaya terbebas dari orde baru semata, bukan supaya lebih baik.

Kemudian, jika nanti anda sudah berubah dan lama-lama anda perlu berubah lagi, lakukan hal yang sama dan begitu terus. Kita harus ingat, hidup ini perjalanan. Sudah begitu, kita hanya dikasih kesempatan untuk hidup sekali didunia ini.

Karena itu, kita tidak usah perlu membebani pikiran dengan menolak atau bersifat resistan terhadap perubahan. Selma tujuan kita untuk lebih baik, kenapa takut berubah?

Teori 2 : Beckhard dan haris

Anda juga bisa menggunakan teori perubahan yang di gagas oleh beckhard dan harris (1987) sebagai starter awal. Menurut teori mereka, perubahan akan terjadi kalau sejumlah syarat, yaitu :
  • > Manfaat dan biaya. Manfaat yang diperoleh lebih besar daripada biaya perubahan.
  • > Ketidakpuasan. Adanya ketidakpuasan yang menojol terhadap keadaan sekarang.
  • > Persepsi hari esok. Manusia dalam suatu organisasi melihat hari esok yang dipersepsikan lebih baik.
  • > Cara praktis. Ada cara praktis yang dapat ditempuh untuk keluar dari situasi sekarang.

Teori di atas dapat kita praktikkan berdasarkan keadaan, konteks, dan kemampuan kita dengan menemukan ide tentang apa yang bisa kita lakukan menggunakan apa yang sudah ada untuk memulai berusaha dari tempat sekarang. Misalnya, sambil kuliah anda berjualan, ssambil menjadi pegawai anda juga menekuni peluang lain, dan seterusnya.

Supaya tindka iu kuat motivasinya, anda harus membayangkan adanya hari esok yang lebih baik, misalnya ekonomi anda lebih baik, lukislah mimpi anda, jadikan mimpi itu sebagai panduan, dan dari pandua itu susunlah aksi yang bisa anda jalankan setiap hari.

Teori 3 : EC = AXBXC>Z

Fomula di atas adalah singkatan sebagai berikut :

EC = Energy and enthusiasm for change.

EC adalah energi atau semangat untuk berubah kearah yang lebih baik. Energi dan semangat inii sebenarnya sudah dimiliki oleh semua orang. Pastilah kita semua menginginkan diri kita yang terus lebih baik. Hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari depan akan lebih baik dari hari ini. Darimana energi ini bisa kita gali?

A = Dissatisfaction with the present.

A adalah ketidak puasan pada hari ini. Ketidakpuasan inilah yang bisa kita gunakan sebagai sumber motivasi. Ketidakpuasan kita melihat adanya kelemahan, kekurangan, dan kecacatan dari hasil yang sudah kita dapat merupakan potensi yang bisa diolah, asalkan kita mau mengolahnya.

B = The benefit of change.

B adalah nilai plus (keuntungan) yang akan kita dapatkan kalau kita berubah dari sekarang. Jadikan ketidakpuasan sebagai bahan bakar untuk memberontak kemalasan dan kemandekan. Agar lebih kuat, tambahkan dengan “iming-iming” (insentif) yang akan kita dapatkan kalau kita mau berubah kearah yang lebih baik. Kalau kita sudah tidak tertarik lagi dengan hasil yang lebih buruk, maka ini justru malah tidak bagus buat pendidikan diri kita.

Paulo coelho berpesan, “tetapi, ada penderitaan dalam hidup ini. Ada kesalahan. Tak seorang pun bisa menghindarinya. Hanya saja lebih baik kalah dalam pertempuran memperjuangkan mimpimu ketimbang harus dikalakan tanpa kamu ketahui apa yang kamu perjuangkan.”

C = The ease of change process.

Agar kita mempunyi dorongan yang lebih besar lagi, maka kita juga perlu menambahkanya dengan cara-cara yang bisa kita lakukan, dan cara yang bisa dimulai dari sekarang ini penting untuk memperkuat motivasi.

Karena itulah, kita perlu mengumpulkan cara sebanyak mungkin agar kita bisa memulai mana yang paling mudah , paling bisa dilakukan, dan paling bisa dimulai dari sekarang. Sebetulnya, semua orang mempunyai keinginan untuk membawa dirinya kearah perubahan yang lebih baik.

Sayangnya, kebanyakan kita malas berfikir tentang cara-cara alternatif yang sederhana, cara yang bisa dijalankan, dan cara yang bisa dimulai dari sekarang dan dari diri-sendiri.

Kebanyakan kita menemukan cara yang benar, cemerlang, dan terkesan “WAH”, tetapi cara tu hanya bisa jalan kalau ada investor, kalau ada keterlibatn orang lain, dan kalau ada dukungan dari nasib baik.

Salah seratus persen sih tidak, tetapi masalahnya adalah, bila ternyata syarat-syarat itu tidak kita temukan atau belum kita temukan, akhirnya cara yang bagus dan cemerlang itu harus menjadi dokumen yang tidak berguna.

Praktik hidup sering membuktikan : kita akan mendapatkan dukungan orang lain dan dukungan nasib baik setelah kita mampu membuktikan bahwa cara itu bisa kit lakukan dari diri kita lebih dulu.

Z = Psychological and economic costs of change.

Langkah terakhir adalah mempertimbngkan dan mengalkulasi risiko dan biaya yang akan kita tanggung jika kita harus memilih untuk berubah kearah yang lebih bagus.hitunglah dan kalkulasilah dengan bagus supaya program kita untuk memperbaiki diri adalah program yang riil, bisa dijalankan, dan bisa dimulai.

Kita perlu ingt bahwatidak semua perubahan akan menghasilkan perbaikan, tetapi semua perbaikan mensyartkan perubahan. Untuk menghasilkan perbaikan, sudah pasti perubahan itu menghadapi hambatan. Sejumlah hambatan perubahan dapat anda telaah dari tulisan rhenald kasali dalam buku change (2006), seperti yang kutip di bawah ini :

HAMBATAN PERUBAHAN

Seorang bisa gagal menyelesaikan perubahan karena beberapa alasan, mungkin keletihan mental atau karena kehilangan kepercayaan. Ada beberapa alasan seseorang mengalami keletihan dalam perubahan.

Hal-hal yang membuat orang cepat letih dalam perubahan ini hendaknya perlu mendapat perhatian karena sesungguhnya dapat di cegah. Alasan-alasan tersebut antara lain :

Perubahan terlalu tegang

Perubahan harus memberikan ruang untuk bernapas dan untuk menikmati kehidupan dengan senang. Kesenangan positif akan mendorong orang bekerja lebih produktif dan lepas dari ketegangan-ketegangan dan kebosanan-kebosanan. Perubahan yang terlalu tegang akan membuat orang cepat letih dan kehilangan energi.

Terlalu sering berubah

Perubahan memang tidak menjamin suatu keberhasilan. Oleh karena itu, sangat mungkin perubahan yang anda lakukan menurut langkah-langkah selanjutnya. Namun, perubahan yang terlampau sering bisa membuat orang yang kehilangan arah.

Perjalanan panjang

Perjalanan pnjang membutuhkan rest area, yaitu titik-titik untuk melakukan istirahat dan melepaskan diri dari kepenatan. Pada titik-titik itu manusia bukan cuma memerlukan toilet, rumah makan, dan tempat untuk engisi bahan bakar, melainkan juga informasi-informasi penting yang menyangkut perjalanan itu sendiri. Maka dalam setiap perjalanan panjang, dibutuhkan kemenangan-kemenangan jangka pendek, imbalan-imbalan berupa materi atau nonmateri.

Kurang dukungan

Kalau seseorang merasa kurang dukungan, ia bisa mengalami keletihan. Tekanan-tekanan yang terlalu kuat, yang tidak didukung oleh mayoritas pekerja, akan membuat seseorang gelisah dan letih. Dukungan memberikan kehangatan dan meningkatkan semangat bekerja. Dukungan dari rekan-rekan kerja dan atasan akan sangat membantu seseorang mengatsi tekanan-tekanan yang mereka terima. Dukungan diperlukan sepanjang waktu sampai perubahan mencapai hasilnya.

Rutinitas

Rutinitas bisa membuat orang cepat bosan dan merasa letih. Maka hindarilah ucapan-ucapan, pemberian imbalan, cara kerja, atau komunikasi apa saja yang terlalu rutin. Manusia membutuhkan surprise yang bisa mengangkat adrenalin mereka dan merasakan sentuhan-sentuhan emosi yang hidup.

Friday, July 1, 2016

Jangan sampai menjadi korban ketidak puasan, motivasi meraih sukses

Bagi orang-orang yang berprestasi tinggi, ketidakpuasa telah dijadikan sebagai dorongan untuk maju (motivator). Namun untuk sebagian besar manusia, yang terjadi tidak begitu. Umumnya, mereka malah menjadikan ketidak puasan sebagai demotivator (penhancur), terlepas apakah itu dilakukanya secara sadar atau tidak.

Akhirnya apa? Rasa tidak puas yang kita gunakan sebagai demotivator akan menghancurkan diri sendiri. Proses yang umum biasanya adalah :
  • > D1 = Dissatisfaction. Anda tidak puas atau tidak mensyukuri keadaan hari ini
  • > D2 = Demotivation. Anda tidak punya gairah untuk mengubah hidup atau meraih prestasi
  • > D3 = Despaer. Anda sering putus asa, mereka tidak berdaya gampang pasrah pada nasib.
Begitu terserang D3 ini, kita akan sulit bahagia, padahal, kebahagiaan tidak diukur dari berapa banyak sesuatu yang anda miliki, tetapi berapa banyak sesuatu yang anda nikmati dari yang anda miliki.

Walaupun punya pekerjaan, tapi kalau tidak ouas dengan pekerjaan itu, mana bisa kita membangun rasa bahagia. Yang ada, pekerjaan itu akan menjadi sumber tressor. Jika ini terus berlanjut, ya kita akan kurang berdaya melawan realitass yang menghambat kita.

Jika ketidak puasan itu anda olah, misalnya menjadi energi pendobrak, pasti hasilnya bagus. Ketidak puasan bisa diolah menjadi inisiatif untuk berubah, lalu menghasilkan perbaikan atau kemajuan. Dengan membaikan kualitas hidup, kita pasti lebih bisa merasa bahagia.

Kembali kesoal korban ketidakpuasan, yang juga jangan sampai kita lakukan terlalu lama atau terlalu sering adalah menjadikanya untuk membangun sebuah penilaian negatif, baik terhadap diri sendiri atau lingkungan.

Penilaian negatif merupakan demotifator, sebab penilaian ini akan menghasilkan opini atau kesimpulan negatif tentang diri sendiri. Penilaian ini akan menghasilkan konsep diri negatif (negative self-consept).

Konsep diri adalah bagaimana anda menyimpulkan diri secara keseluruhan, bagaimana anda melihat konsep secara keseluruhan.

Konsep diri ini ada yang lemah dan ada yang kuat, ada yang positif dan ada yang negatif. Misalnya, ada orang yang menyimpulkan dirinya tidak punya kelebihan apa-apa. Ini konsep diri yang lemah.

BERBAGAI CONTOH KESIMPULAN DIRI NEGATIF :

NO - CONTOH KESIMPULAN DIRI

1. Saya tidak punya bakat, tidak punya kelebihan apa-apa.
2. Saya orangnya tidak disiplin dan tidak mempunyai semangat.
3. Langkah saya gagal total.
4. Saya sudah tidak berharga lagi.
5. Saya telah kehabisan kesabaran.
6. Saya tidak akan mampu meraih apa yang saya inginkan.
7. Saya terlahir untuk kalah, untuk menanggung penderitaan DLL.
8. Saya tidak memiliki alasan yang kuat untuk bersyukur atau mensyukuri nikmat tuhan.
9. Saya tidak pernah yakin akan keberhasilan saya.
10.Saya sering melakukan kesalahan fatal.
11. Saya tidak akan mencoba sesuatu yang baru karena takut gagal.
12. Pasti saya akan gagal lagi
13. Orang lain sepertinya jauh lebih sukses daripada saya.
14. Saya muak melihat diri saya.
15. Saya tidak bisa menghangatkan suasana ketika bertemu dengan siapapun.
16. Saya selalu mengucapkan ucapan-ucapan yang salah didepan orang.
17. Saya merasa tidak pantas menjadi orang yang saya inginkan.
18. Saya malas melakukan apapun atau saya tidak merasa tertarik dengan apapun.
19. Saya lebih sering jengkel pada diri sendiri, pada orang lain atau pada keadaan
20. Ketika saya sudah marah, tidak akan ada yang bisa menghentikan.
21. Saya tidak bisa mengontrol diri saya.
22. Saya selalu merasa terhantui oleh masalalu yang buruk.
23. Saya tidak memiliki siapapun didunia ini, saya hidup seorang diri.
24. Saya tidak bisa hidup tanpa dirinya atau lebih baik mati saja bila tanpa dirinya.
25. Hidup yang idak ada artnya lagi.

Studi ilmiah dibidang psikologi mengungkapkan bahwa konsep diri yang dibangun seseorang entah sadar atau tidak punya pengaruh terhadap tinggi rendahnya motivasi, kuat lemahnya kepercayaan diri, dan positif negatifnya harga diri seseorang, malah kalau melihat hasil opservasi yang dilakukan oleh gordon dryden dan Dr. Jeannette vos (2000), konsep diri atau self image, berperan lebih dominan dalam mencetak keberhasilan para siswa, ketimbang peranan kurikulum.

Praktik dilapangan sepertinya mendukung hasil observasi itu. Kita kerap menemukan sekolah tertentu yang sering berhasil mencetak laumni yang bagus. Padahal, jika dilihat buku yang diajarkan, mungkin tidak banyak dengan perbedaan dengan sekolah lain. Seringkali bedanya terdapat pada bagaimana jiwa siswa siswinya dibangkitkan melalui budaya di sekolah itu.

Secara tidak lansung, kalau melihat pesan-pesan agama, tuhan sendiri mengajarkan manusia untuk meiliki konsep yang positif. Misalnya, kita diwajibkan bersyukur, diwajibkan beriman, dan dijelaskan juga bagaimana tuhan melebihkan kita dari pada mahkluk lain, atau dijelaskan juga bahwa tuhan telah memuliakan manusia.

Semua itu ada jalan, kalau kita tempuh, secara tidak langsung kita telah membangun konsep diri yang positif. Bersyukur berarti kita berkesimpula bahwa saat ini kita sudah memiliki nikmat yang bisa kita gunakan untuk endapat nikmat lain.

Dalam praktiknya, konsep diri jauh lebih berperan ketimbang berbagai potensi, kelebihan, dan keunggulan yang kita miliki. Kenapa? Sebanyak apapun keunggulan dan bakat yang terpendam di dalam diri, tetapi kalau kita membangun konsep diri negatif, pasti keunggulan itu bisa kita munculkan.

Itulah kenapa pakar kecerdasan sendiri menyimpulkan bahwa peranan anda jauh lebih menyimpulkan ketimbang kecerdasan anda. Berbagai kecerdasan seseorang kurang ada gunanya jika ia membangun kesimpulan yang lemah mengenai dirinya.

Paslah jika Brian Tracy, seorang motivator yang juga banyak menulis buku, menyimpulkan : tidak ada orang yang kurang kemampuan merealisasikan gagasanya, kecuali yang kurang keyakinan atas kemampuan, “self-distrust is the cause of most of our failures,” kata motifator lain. Kurang pede adalah sebab umum dibalik berbagai kegagalan.

Dari mana kita bisa membangun konsep diri? Umumnya, kita membangun konsep diri dari kesimpulan terhadap lingkungan, pengalaman pribadi, pengasuhan, status sosial tertentu, atau dari ucapan orang-orang sekitar. Bisa dikatakan, konsep diri itu dibangun dari faktor eksternal dan internal.

Misalnya, ada orang yang mengatakan usaha anda tidak mungkin berhasil. Ungkapan semacam itu sebetulnya bersifat netral dalam arti bisa menghancurkan diri anda dan bisa pula tidak. Jika anda menerimanya begitu saja atau meyakini kebenarannya, maka ungkapan itu telah membentuk konsep diri. Itulah contoh konsep diri yang dibangun dari faktor eksternal.

Yang perlu dicatat disini adalah konsep diri yang berasal dari faktor eksternal itu bersifat pilihan atu netral. Sebab, pada saat yang sama anda pun bisa melakukan penolakan. “tidak ada orang yang membuatmu hancur tanpa izinmu” begitu kata eleanor roossevelt.

Thomas alva edison termasuk orang yang getol melakukan perlawanan terhadap ungkapan orang yang kurang mendukung kesuksesanya. Orang mengatkan dia bodoh, gagal atau ngawur, tak ia jadikan sebagai bahan membangun konsep diri. Ungkapan itu lawan dengan membuktikan bahwa ia bukan seperti apa yang dikatakan orang.

Sedangkan konsep diri yang di bentuk dari faktor internal misalnya, anda membangun penilaian atau pemahaman tertentu dari keadaan sekitar. Anda berkesimpulan sebagai orang lemah atau orang kecil karena anda lahir dari keluarga miskin, status sosial rendah, atau berbagai kesimpulan negatif lain.

Konsep diri yang dibangundari faktor internal bukan lagi bersifat pilihan, melainkan kepastian. Kita pasti akan menjadi orang yang lemah saat kita membangun konsep diri yang lemah, walaupun sebetulnya masih ada peluang menjadi orang yang kuat.

Dalam al-quran dijelaskan, ada dua istilah terkait dengan orang lemah, yaitu orang yang melemahkan dirinya (membangun konsep diri negatif dari faktor internal) dan ada orang yang dilemahkan oleh sistiem. Orang yang melemahkan dirinya termasuk berdosa, karena tuhan telah memberi berbagai kapasitas yang kalau diperdayakan dengan baik akan membuat dia menjadi orang yang kuat.

“SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG YANG DIWAFATKAN MALAIKAT DALAM KEADAAN MENGANIAYA DIRI SENDIRI, (KEPADA MEREKA) MALAIKAT BERTANYA, “DALAM KEADAAN BAGAIMANA KAMU INI?’ MEREKA MENJAWAB, “ADLAH KAMI ORANG-ORANG YANG TERTINDAS DI NEGERI MEKAH). PARA MALAIKAT BERKATA, “BUKANKAH BUMI ALLAH ITU LUAS, HINGGA KAMU DAPAT BERHIJRAH DI BUMI ITU?’ ORANG-ORANG ITU TEMPATNYA NERAKA JAHANAM, DAN JAHANAN ITU SEBURUK-BURUK TEMPAT KEMBALI.” (QS. an-nisa :)

Nah, terlepas dari manapun konsep diri itu kita bangun, tugas kita adalah memunculkan konsep diri yang memperkuat langkah kita atau membuat kita menjadi semakin pede. Dunia ini tidak akan bertanya darimana asal kita, tetapi apa yang bisa kita lakukan. Masalalu tidak menjadi anda penting buat anda. Yang penting adalah masadepan seperti apa yang hendak kita wujudkan.

Manfaat dari ketidak puasan untuk meraih sukses

Kalau anda membaca konsep perubahan entah yang ditawarkan agama atau ilmu pengetahuan, hampir semuanya menyuruh kita untuk melibatkan rasa tidak puas (ketidakpuasan).

Jika anda ingin bertobat, syaratnya anda harus tidak puas dengan kehidupan ini. Kalau anda happy-happy saja dengan kehidupan yang sekarang, tidak merasa perlu untuk bertobat, ya motivasinya kurang.

Oleh karena itu, para ulama membuat semacam persyaratan untuk bertobat, yaitu an-nadamah atau enyesal atas apa yang kita lakukan, lalu bertekat untuk berubah dan melakukan perubahan.

Demikian juga konsep perubahan yang ditawarkan ilmu pengetahuan seperti manajemen atau psikologi. Hampir semua masyarakat ketidak puasan sebagai dorongan untuk berubah.

Seperti disimpulkan oleh pakar pendidikan amerika, Dr Felice Leonardo Buscaglia (1998). Dia mengatakan : perubahan adalah hasil akhir dari pembelajaran, perubahan melibatkan tiga langkah, yaitu ketidak puasan, keputusan untuk berubah, dan kesadaran untuk mengapdikan diri pada proses perkembangan.

Selain teorinya begitu, dalam praktiknya pun sama. Sudah banyak para pengusaha yang mengatakan bahwa dirinya ingin kaya karena tidak puas dengan kehidupannya yang diliputi kekurangan dan keterbatasan.

Pak Henky Tjoa, pendiri bakmi japos, merasa dendam terhadap kemiskinan. Maksudnya, tidak puas dengan kemiskinan. Sebelum meraih sukses, dia sudah melakukan usaha yang bermacam-macam dan gagal.

Intinya, ketidakpuasan adalah modal paling besar untuk berubah. Sekarang, adakah seseorang yang tidak punya rasa ketidakpuasan? Tuhan menganugerahkan potensi ini kepada semua orang tanpa pengecualian.

Kita mudah tidak puas atas prestasi usaha yang selama ini kita jalankan. Kita mudah tidak puas dengan prestasi akademik yang kita capai. Kita mudah tidak puas dengan prestasi yang kita jalani.

Karena diizinkan oleh Tuhan untuk ada didalam diri kita, maka tentulah ada kegunaannya. Tidak mungkin tuhan menciptakan sesuatu atau mengizinkan sesuatu tanpa ada guna. Mustahil, tho?

Persoalan akan kita gunakan untuk apa ketidak puasan itu, ini kembali pada apa yang kita pilih. Tuhan telah memberi otoritas kepada kita untuk memilih kegunaan. Maka lahirlah ungkapan, life is choice, hidup itu pilihan.

Rasa tidak puas bisa kita gunakan untuk memotivasi diri, menjadi sumber motivasi atau motivator. Sebaliknya, bisa pula kita gunakan untuk menghancurkan diri kita, menjadi demotivator, dan meemahkan diri kita.

Menurut hasil studi dari New York University yang dikutip oleh Andrew Buckley dalam jurnal “practical EQ” (2004) : orang-orang yang punya prestasi tinggi di bidangnya (high acheivers), selalu mempunyai kecenderungan untuk menyempurnakan sesuatu.

Karena mereka menggunakan ketidakpuasanya untuk mendorong kearah kemajuan, maka hasilnya adalah aksi yang selalu menyempurnakan. Merka memiliki banyak kesempurnaan karena mereka selalu menyempurnakan dirinya dengan menggunakan ketidakpuasanya itu sebagai energi.

Rasa tidak puas yang dimiliki manusia bisa dijadikan sebagai sumber motivasi untuk mendorong terciptanya perubahan hidup yang lebih bagus. Andai rasa tidak puas ini di cabut oleh Tuhan, mungkin tidak ada orang yang termotivasi untuk mengubah hidupnya.

Melaluai serangkaian dalam meniti karir dari bawah, Anthony Robbins, motivator terkenal dari Amerika, sampai pada kesimpulan bahwa rahasia kesuksesan yang dicapainya adalah ketidak puasan pada hari ini.

Katanya begini, “jika saya ditanya tentang apa yang membuat hidup saya berubah ahi-ahir ini, maka saya menjawab bahwasaya selalu menaikkan standar prestasi. Saya selalu menambah jumlah hal-hal yang tidak biasa saya beri toleransi lagi. “dengan begitu, hidupnya berubah ke bentuk kearah yang lebih bagus.

Kemandekan,kesalahan dan kurang sempurnaan kita pada hari ini apabila kita “maklumi”, kita beri toleransi, kita “maafkan” dengan pengertian lemah, maka tidak mendorong kita untuk maju. Seperti kata prof. Nurcholis madjid, manusia yang sempurna bukanlah manusia yang bersih dari kesalahan, melainkan manusia yang selalu menyempurnakan dirinya.

Apakah ini tidak bertentangan dengan ajaran qana’ah (kepuasan)? Seperti kata albert einstein, semuanya tergantung. Tergantung pada apanya? Tergantung pada siapa yang menggunakan dan siapa yang di gunakan.

Maksud saya, kalu kita menggunakan ketidak puasan itu, maka ketidak puasan itu justru mendukung tujuan qana’ah yang luhur. Tapi jika kita yang digunakan oleh ketidak puasan itu, maka ia akan berubah menjadi nafsu rakus yang bertentangan dengan ajaran apapun, termasuk qana’ah.

Esensi dari qana’ah adalah menghindarkan manusia dari nafsu kerakusan yang membahayakan seseorang. Qana’ah bukan ajaran yang menekankan prinsip nrimo dala arti lemah, kalah, dan pasrah apa adanya.

Studi ilmiah di bidang psikologi olahraga menyimpulkan : salah satu yang menyebabkan seorang atlit kehilangan motivasi untuk bermain secara sportif adalah karena rakus. Orang korupsi bukan karena miskin, tapi karena rakus.

Sebetulnya, para pahlawan kita dulu adalah orang-orang yang menggunakan ketidakpuasan atas kondisi negeri yang dicintainya sebagai dorongan untuk mengusir para penjajah, maka mereka punya dorongan yang kuat untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Sebetulnya, para pahlawan kita dulu adalah orang-orang yang menggunakan ketidakpuasan atas kondisi negeri yang dicintainya sebagai dorongan untuk mengusir para penjajah. Karena mereka tidak puas dengan penjajahan, maka mereka punya dorongan yang kuat untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Bahkan kalau kita melihat ulang sejarah nabi ibrahim, sejak kecil beliau tidak puas melihat ketidak beresan tradisi masyarakat yang menyembah patung, termasuk ayahnya yang kebetuln berprofesi sebagai pemahat di kerajaan.

Ketidak puasan itu yangg mendorong nabi ibrahim untuk mencari dan menemukan yang lebih bagus hingga akhirnya dipilih oleh TUHAN sebagai “bapak agama samawi”. Terlepas wahyu atau inisiatif pribadi, tetapi itulah pelajaran untuk kita.

Galilah keinginanmu, untuk menggapai mimpi

Siapa yang tidak punya keinginan? Keinginan adalah pertaanda kehidupan. Selama kta masih hidup, kita pasti memiliki keinginan. Permasalahannya, apakah keinginan itu sudah anda olahmenjadi sumber motivasi atau anda biarkan menguap begitu saja?

Keinginan merupakan sumber motivasi yang bisa kita gali dari dalam sendiri. Semua orang punya “keinginan untuk menjadi atau keinginan untuk memiliki itu juga bisa di jadikan sebai sumber motivasi (dorongan maju), sebab dengan keinginan itu kita terdorong untuk meraihnya.

Tidak hany itu. Keinginanah yang membuat kita tahan dan tabah menghadapi realitas yang kurang ideal menurut kita. Seseorang mahasiswa yang kuat keinginannya untuk menyelesaikan studi, pasti lebih tahan menghadapi masalah.

Seseorang yang tidak ingin namanya cacat atau tidak ingin kepercayaan orang lain hilang, pasti lebih than memegang janji atau komitmen. Orang yang keinginannya lemah, biasanya motivasinya juga lemah.

Syarat untuk mendapatkan apa yang kita inginkan adalah menginginkan sebanyak mungkin apa yang hendak kita miliki. Inginkan diri anda untuk melakukan sesuatu sebanyak mungkin. Inginkan potensi anda untuk keluar sebanyak mungkin. Pasti akan anda dapatkan banyak hal.

Semakin banyak potensi yang kita keluarkan, maka semakin banyak yang kita lakukan. Dengan begitu, semakin banyak pula yang kita dapatkan. Itulah kenapa orang tua kita dulu mengajarkan untuk meraih cita-cita yang tinggi.

Meskipun semua orang sudah tahu bahwa cita-cita itu bukanlah sasarn yang secara mutlak bisa diwujudkan, tetapi dengan memiliki cita-cita diharpkan si anak bisa terus memiliki dorongan untuk maju. Meskipun nantinya si anak itu tidak mencapai cita-citanya seratus persen, tetapi dorongan (motivasi) itulah yang akan mengantarkan anak ke tempat yang tidak terlalu rendah.

Sudah banyak manusia didunia ini,yang meskipun tidak mencapai cita-citanya seratus persen, tetapi tuhan menggantinya dengan hal lain yang nilainya sama atau yang lebih bagus. Tentu saja tuhan mempunyai alasan tersendiri untuk mendatangkan gantinya itu.

Salah satu alasan yang paling rasional menurut manusia adalah memiliki motivasi untuk maju. Tidak mungkin tuhan memberikan sesuatu tanpa sebab. Bahwa ada sebab yang ketahuan dan yang tidak ketahuan, ini soal lain.

Les brown, seorang motivator, menyarankan, “bidiklah bintang yang tinggi. Setidak-tidaknya kalaupun meleset, melesetnya tetep di tempat yang tinggi.” kepada anak-anak muda, saya selalu mengompori. Bikinlah cita-cita yang tinggi, toh gratiskan?

Apa ruginya seseorang punya cita-cita yang tinggi? Apa untungnya kita punya cita-cita yang rendah? Bikinlah yang tinggi. Setidak-tidaknya itu aan memberi cahaya. Tapi, jangan diomomgin ke orang.

Imam al-ghazali, tokoh keilmuan islam, dalam ilya ulumudin menjabarkan bahwa dorongan untuk melakukan sesuatu itu bisa digli dari dua sumber :
  • > K einginan kita untuk mendapatkan sesuatu (al-muyul ilan nail).
  • > Keinginan kita untuk menghindari sesuatu (al-muyul ilal hurub).

Kedua keinginan itu adalah sesuatu yang diizinkan tuhan untuk ada didalam diri manusia. Dan karena atas izinya, maka ia tidak ada begitu saja, malainkan ada karena kegunanaanya.

Soal digunakan untuk apa, di sinilah kita diberi pilihan. Jika kita gunakan untuk kebaikan dengan cara yang baik, sudah pasti hasilnya kebaikan. Sebaliknya, bila kita gunakan untuk keburukan, dengan cara yang buruk pula, hasilnya juga keburukan.

Anthony Robbins, salah seorang motivator kelas dunia, menyimpulkan : penyebab oarang yang malas bukanlah kemalasan, bukan keinginan untuk malas. Tidak ada satu orang pun di dunia ini untuk malas.

Secara fitrah, tidak ada manusia di dunia yang bahagia dengan kemalasan. Kemalasan muncul karena keinginan seseorang yang tidak jelas. Kalau kita kabur melihat keinginan kita, tidak jelas apa yang kita inginkan untuk “menjadi” (to become) atau “memiliki” ( to have), maka langkah kita juga menjaadi kabur.

Karena rumusan keinginan itu tidak jelas di baca oleh mata batin kita, maka pada praktiknya, tidak jelas pula perjuangan kita. Munggkin inilah yang bisa menjawab kenapa justru si bos yang lebih giat bekerja di kantor ketimbang anak buah atau karyawannya.

Justru orang yang sudah meraih prestasi tinggi di bidangnya yang semakin giat berusaha mendapatkan prestasi yang lebih tinggi lagi. Justru orang yang sudah kaya yang lebih giat lagi dalam menangani bisnis.

Bill gate dan orang-orang sepertinya memiliki jam kerja yang jauh lebih tinggi dari kebanyakan orang. Saking besarnya dorongan untuk maju, sampai-sampai terkadang di butuhkan semacam pembatas untuk mengendalikanya agar tidak kebablasan dan membahayak kesehatan.

Trainer dan penulis buku greg aderson mengatakan, “ketika langkah anda sudah di motivasi oleh tujuan yang sangat bermakna bagi anda, cita-cita yang ingin anda capai cinta murni yang benar-benar ingin anda ekspresikan, maka anda sudah benar-benar bisa menjalani hidup sesuai yang anda inginkan.”

Studi ilmiah di bidang karier menemukan dua hal berbeda pada orang yang punya keinginan rendah dan keinginan tinggi. Mereka yang punya keinginan rendah, ternyata punya motivasi dan kreativitas yang rendah. Sementara mereka yang mempunyai keinginan tinggi, gairah dan kreativitasnya lebih tinggi.

Tinggi dan rendahnya keinginan disini dapat dilihat dengan menggonakan teori maslow. Keinginan yang rendah atau pendek adalah untuk mendapatkan materi atau kebutuhan fisik. Keinginan yang menengah adalah kebutuhn emosional dan sosial. Sedangkan keinginan yang tinggi adalah kebutuhan transformasi personal, yitu aktualitas diri.

Karena mereka memiliki motivasi dan kreativitas yang berbeda, maka pada akhirnya akan berbeda pula balasan yang mereka dapatkan. Sebanyak benih yang kta tanam, sebanyak itu pula hasil yang kita tuai.

Artinya, jika anda selama ini bekerja dengan niat untuk mencari uang, itu memang sah, boleh dan benar. Tapi, jangan sampai hanya uang yang anda inginkan. Inginkn juga untuk meraih prestasi atau untuk beraktuaalisasi diri.

Akan lebih baik lagi kalau anda juga meniatinya sebagai ibadah. Semakin banyak niat yang baik yang kita butuhkan, semakin banyak pula hal yang baik yang kita dapatkan. Karena itu, dalam agama, niat adalah rukun (pokok dalam aktivitas).

Al-quran menyuruh kita memiliki keinginn yang disampaikan dlam bentuk perintah berdoa untuk mengharapkan rahmat tuhan. Bahkan, al-quran mengingatkan bahwa ketika kita sudah kehilangan keinginan dan harapan yang membuat kita malas berdoa, maka kala itu juga kita sudah terancam oleh kesesatan dan kegelapan.

“Ibrahim berkata, ‘tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS al Hijr: 560

Dalam hadis dijelaskan, yng dilarang ketika berdoa adalahal-qunuth, yakti putus asa duluan, yakin bahwa allah tidak akan mengabulkan doa kita, atau ragu-ragu atas doa kita. Nabi juga mengingatkan agar jangan sampai kita punya pikiran yang kira-kira bunyinya beini, “ saya sudah berdoa tetapi hasilnya nol. Lalu, untuk apa lagi berdoa?” pikiran demikian adalah presentasi dari keputusan kita atau pemangkasan atas keinginan yang muncul.

Sedemikian penting keinginan peranan itu dalam hidup kita, maka al-quran membuat semacam peringkat yang membedakan antara keinginan yang berkualitas rendah dan berkualitas tinggi.

Keinginan berkualitas tinggi atau paling bagus adalah seperti yang di ajarkan nabi muhammad melalui doa yang paling banyak beliau baca yaitu : “Ya tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari api neraka.”

Melalui doa itu, nabi mengajarkan kita untuk memiliki keinginan berjangka pendek (ad-dunya) dan keinginan yang berjangka panjang (al-akhira). Bukan jangka pendek semata atau jangkka panjang semata.

Bukan saja keinginan untuk mendapatkan, melainkan keinginan untuk di hindarkan. Secara motivasi, keinginan yang berkualitas paling tinggi ini punya dampak lebih bagus di baniding keinginan yang berkualitas rendah.

Jika yang kita kejar hanya dunia (jangka pendek), maka hanya itu yang akan kita dapatkan. Jika yang, kita kejar adalah keduanya, maka kedunanya bisa didapatkan. Seperti yang termaktub dalam surah al-baqarah : 200-202 berikut :

“APABILA KAMU TELAH MENYELESAIKAN IBADAH HAJIMU, MAKA BERZIKIRLAH DENGAN MENYEBUT ALLAH, SEBAGAIMANA KAMU MENYEBUT-NYEBUT (MEMBANGKA-BANGGAKAN) NENEK MOYANGMU, ATAU (BAHKAN) BERZIKIRLAH LEBIH BANYAK DARI ITU. MAKA DIANTRA MANUSIA ADA YANG BERDOA, “YA TUHAN KAMI, BERILAH KAMI KEBAIKAN DI DUNIA DAN KEBAIKAN DI AKHIRAT DAN PELIHARALAH KAMI DARI SIKSA NERAKA.” MERKA ITULAH ORANG-ORANG YANG MENDAPATKAN BAGIAN DARIPADA YANG MEREKA USAHAKAN : DAN ALLLAH SANGAT SEPAT PERHITUNGANYA.

Tetapi, tentunya tidak semua keinginan

Meski dalam teorinya keinginan disebut sebagai sumber motivasi, namun dalam praktiknya tidak semua begitu. Semua orang pasti ingin meraih prestasi, tapi apakah semua orang punya motivasi yang tinggi untuk meraihnya?

Tentu tidak. Ada yang kuat, ada yang setengah-setengah, dan yang rendah. Yang membedaan disini adalah goal (tujuan yang jelas) dan wish (keinginan umu). Great minds have goal, other have wishes. Orang besar punya tujuan, sementara yang lain hanya punya keinginan.

Beberapa bentung keinginan yang kurang menghsilkan motivasi itu antara lain adalah keinginan umum. Umum disini pengertianya dimiliki oleh semua orang yang hidup didunia ini atau diucapkan hanya dengan mulut, tanpa penjiwaan dan pembuktian tindakan.

Misalnya, ingin sehat, ingin kaya, atau ingin terhormat. Semua manusia didunia ini pasti ingin sehat. Supaya keinginan itu dapat menghasilkan motivasi, harus di spesifikasikan sesuai keadaan dan kebutuhan.

Semua manusia juga ingin kaya, tidak ada yang ingin miskin. Supaya keinginan itu menghasilkan motivasi, maka perlu dispesifikasi. Misalnya, ingin menaikan produksi usaha, ingin menambah jaringan bisnis, dan seterusnya.

Semua manusia juga ingin terhormat dan tak ada yang ingin terhina. Suppaya keinginan itu menghasilkan motivasi, maka perlu dispesifikasi. Misalnya, ingin menambah jumlah sedekah, ingin meningkatkan kepada kebaikan tetangga atau tamu, dan seterusnya.

Bentuk keinginan lain yang kurang menghasilkan motivasi adalah keinginan yang tidak jelas. Keinginan seperti ini biasanya tidak jelas gambaranya, cara untuk mencapainya tidak jelas, dan pengethuan kita tentang seluk beluk hambatan di lapangn juga tidak jelas.

Karena pikiran kita tidak jelas melihat keinginan, maka praktik yang akan kita jalankan juga tidak jelas dan sering kali tidak mendapatkan motivasi yang kuat dari keinginan itu. Seperti kata orang bijak, “jika kita tahu seberapa dekat jarak usaha kita dengan tujuan, maka kita akan cenderung semakin giat.

Thomas watson pendiri perusahaan IBM, mengajarkan kita dari pengalaman hidupnya. Yang pertama kali ia lakukan adlah memiliki gambaran dikepalanya tentang seperti apa perusahaan yang ia inginkan. Setelah itu, ia menggambarkan sekian cara yang bisa digunakan untuk mewujudkan keinginan itu. Lalu yang terkhir, menggunakan cara yang sudah ia temukan untuk mewujudkan keinginannya.

Para atlit diajarkan tiga hal agar mereka selalu memiliki motivasi yang kuat dalam menjalani latihan dan meraihprestasi, yaitu :
  • 1. Memperjelas visi (gambaran di batin tentang masa depanya). 
  • 2. Mempertebal keyakinan (yakin atas kemampuan diri sendiri dan yakin atas pembalasan tuhan bagi setiap usaha manusia).
  •  3. Memperjelas metode (cara) untuk mencapai visi tersebut.

Semaki jelas pikiran seorang melihat ketiga hal itu, maka semakin kuatlah dorongan yang muncul dari dalam dirinya. Sebaliknya, semakin kabur pikiran seseorang tentang visi, keyakinan dan metodenya, semakin tidak jelas pula motivasnya.

Keinginan tertentu yang juga kurang menghasikan motivasi adalah keinginan utopis. Yaitu, bentuk keinginan yang tidak sesuai dengan kemampuan riil atau belum relevan dengan keadaan diri kita. Istilah yang tepat untuk menjelskan keinginan utopis ini adalah lamunan.

Kita punya keinginan tetapi dasarnya adalah lamunan, khayalan, atau fantasi. Nabi muhammad pernah berdoa agar dihindari dari angan-angan yang membuat beliau malas untuk melakukan kebaikan.

Dalam praktiknya, mungkn kita perlu membedakan antara khayalan utopis dengan khayalan idealis, seperti yang digunakan oleh penemu, para toko publik, para pejuang seperti hasyim asy’ari, Sokarno, Hata, dan lain-lain.

Kita perlu membedakan antara visi dan fantasi. Kita perlu membedakan cita-cita yang tinggi dan panjang angan-angan. Apasaja yang perlu dibedakan?

1. Yang pertama, untuk apa itu kita gunakan?

Para peraih prestasi memiliki idialisme yang tinggi, visi yang jauh kedepan, dan cita-cita hidup yang tinggi, lalu mereka gunakan sebagai petunjuk melangkah, cahaya, sinar, seperti fungsi langit bagi bumi.

Dari langitlah sinar matahari, sinr rembulan, dan air hujan diturunkan. Andaikan langit tidak ada, maka bumi ini akan kering dan gelap. Hal ini berbeda dengan khayalan yang dimiliki oleh kebanyakan orang.

Mereka tidak menjalankan khayalanya sebagai petunjuk untuk melangkah di atas bumi. Bahkan, mereka tidak melakukan apa-apa demi khayalanya. Mereka membuang-buang waktu dan energi untuk menghayalkan sesuatu, tidak punya program,\dan tidak punya aksi.

2. Yang kedua, Apa dasar yang kita gunakan?

Para peraih prestasi tinggi itu memiliki idialisme yang tinggi, visi yang jauh kedepan, dan cita-cita hidup yang tinggi, tetapi dasar yang mereka gunakan adalah usaha hari ini dan kemampuan yang sudah terbukti mereka miliki hari ini.

Ibarat naik tangga, jika langkah kita sudah smpai di tangga keempat, tentu sangat masuk akal kalau kita membayangkan supaya bisa sampai pada tangga ketujuh sebagai bukti kemajuan. Hal ini berbeda dengan khayalan yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Mereka memiliki khayalan tetapi dassrnya bukan usaha dan bukan bukti kemampuan.

3. Yang ketiga, bagaimana struktur pencapaian yang ditempuh?

Para peraih prestasi yang tinggi memiliki idealisme yang tinggi, visi yang jauh kedepan, dan cita-cita hidup yang tinggi, tetapi mereka memiliki struktur pencapaian yang jelas urut-urutanya atau jelas skemanya berdasarkan kemampuan yang sudah dimiliki.

Bahkan ketiga visinya tidak bisa diwujudkan, mereka sudah mencapai kemajuan. Hal ini berbeda dengan khayalan yang dimiliki kebanyakan orang. Punya khayalan, tetapi tidak jelas strukturnya dan akhirnya banyak yang salah jalan.

Keinginan idealis menjadi motivator, sementara keinginan utopis menjadi demotivator. Visi memberikan motivasi, sementra fantasi melemahkan motivasi. Cita-cita tinggi mendorong kita untuk maju, sementara panjang angan-angan malah membuat kita malas maju.

Studi ara ahli menemukan bahwa para perih prestasi tinggi itu memiliki idealisme yang tinggi, dan merka punya kemampuan dalam membuat keputusan-keputusan yang bisa dijalankan di lapangan. Mereka bukan sekedar orang yang pandai berpikir, tetapi juga orang yang pandai menjalankan pikirn dan lapangan.

Bahkan, ada keinginn yang merusak berupa kerakusan yang didorong oleh motivasi minus, seperti yang sudah kita bahas dimuka. Bahwa orang menjadi rakus bukan karena tidak punya, tetapi didalam dirinya ada kekosongan, kurang kendali, atau kehampaan jiwa.

MULAILAH DENGAN MEMPERJELAS KEINGINAN

Apa yang bisa kita lakukan untuk menggali motivasi dari keinginan itu? Salah satu yang terpenting adalah memperjelas keinginan tersebut. Bagaimana memperjelasnya? Langkah-langkah ini dapat anda terapkan :

1. Menjadikan sebagai tujuan

Bagaimana memperjelas keinginan itu? Salah satu yang diajarkan para ahli adalah memecah-mecah keinginan itu menjadi sebentuk tujuan (goal). Tujuan adalah sasaran dari usaha kita, bukan dari khayalan kita.

Bagaimana membuat tujuan? Para ahli mengajarkan kita dengan istilah SMART. Ini adalah singkatan yang penjabaranya sebagai berikut :

S = Specific. Sasaran kita harus berupa objek yang jelas seperti gawang dilapangan sepak bola : jelas, utuh, dan tunggal (spesific), atau juga seperti bangunan ka’bah yang secara fisik memang ada. Pikiran kita akan bekerja lebih bagus apakah sasaranny a sangat jelas.

M = Measurable (bisa diukur atau ada padanan fisiknya), sasaran kita harus berupa objek yang memiliki ukuran fisik untuk menandai apakah sasaran itu sudah tercapai atau belum ukuran fisik ini tergantung pada apa yang kita inginkan.

Kalau kita ingin mejadi orang terhormat, kira-kira ukuran fisiknya adalah derajat, posisi, jabatan, atau keahlihan. Uang, tanah, atau kendaraan adalah ukurn fisik kekayaan. Karya adalah ukuran fisik prestasi. Dan seterusnya.

A = Attainable (bisa dijangkau). Sasaran itu harus berupa objek yang secara akal bisa dijangkau oleh kemampuan kita, seperti orang menendang bola. Uuran ini jelas berbeda antara apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain.

Kalau kemampuan kita masih pendek, sebaiknya jangan membuat sasaran yang terlalu jauh. Sebaliknya, jika kemampuan kita sudah jauh, maka jangan membuat sasaran yang terlalu pendek.

R = Relevant (relevan). Sasaran itu harus berupa objek yang kira-kira kalu sasaran itu kita capai, ia memiiki nilai yang tinggi buat kehidupan kita. Ini untuk membangkitkan semangat dan dorongan. Sasaran itu harus menantang kita.

T = Time (waktu). Sasaran itu harus berupa objek yang cara, jalan, dan proses pencapaianya dapat kita gambarkan dengan jelas atau memberi pengaruh dalam hidup kita, maka perlu kita bumikan dengan menggunakan format SMART.

Semua orang ingin hidupnya bermanfaat, tetapi apa yang kita lakukan untuk supaya hidup kita bermanfaat? Ukurannya apa? Bisakah ukuran itu kita capai sebagianya atau langsung seluruhnya? Cukup menantangkah ukurn itu? Proses mencapaianya seperti apa?

MEMPERBANYAK CARA

Setelah sasaran kita buat, maka yang perlu kita lakukan adalah memunculkan ide atau tindakan untuk menemukan cara yang bagus. Caranya antara lain :
  • > Memunculkan banyak pertanyaan yang mendorong untuk maju dan mencerahkan batin. Jangan bertanya mengapa saya gagal dan orang lain sukses. Tanyakan sebanyak mungkin bagaimana supaya kita tidak gagal lagi, tidak kalah lagi dan seterusnya.
  • > Mengamati orang lain yang sudah lebih bagus dari kita secara prestasi. Iri kepada orang lain atas nikmat yang mereka terima tentu dilarang. Tetapi iri yang bisa mendorong kita supaya menjadi yang lebih baik, tentu sangat dianjurkan. Nabi Muhammad menyuruh kitasupaya iri kepada orang kaya yang banyak kontribusinya dan orang yang berilmu menjadi bijak karena ilmunya.
  • > Membaca buku-buku yang materinya pas dengan kebutuhn, keinginan, dan keadaan diri kita. Buku yang pas materinya dengan keadaan diri bisa memotivasi, memberi isnpirasi, dan mengasah kreativitas. Di atas semua itu, membaca buku bisa memperbaiki opini kita tentang diri kita.

Dengan memunculkan perasaan yang membuat kita merasa tertantang untuk mewujudkan tujuan itu, maka langkah kit akan terus mendapatkan dorongan maju. Para pemenang tidak menjadikan tantangan dan hambatan sebagai , tetapi sebagai pembangkit, motivator dan inspirator.

MENSYUKURI HASIL

Seluruh akibat dari perbuatn kita pada dasarnya disebut hasil entah itu kegagalan atau keberhasian. Pengertian mensyukuri di sini adalah menggunakan, mengaktifkan, mengembangkan sumberdaya yang sudah kita miliki atau hasil yang sudah kita dapatkan atau potensi yang sudah kita miliki untuk merih hasi yang lebih bagus.

Kegagalan yang kita “syukuri” dalam arti kita pelajari, kita gunakan materinya, dan kita jadikan sebagai sumber motivasi pasti akan membuakan hasil lebih bagus. Begitu juga dengan keberhasilan. Selama yang kita gunakan adalah syukur, maka ia akan membuahkan hasil yang bagus.

Kegagalan yang tidak kita syukuri, akan membuahkan hasil kegagalan yang lebih parah lagi. Keberhasilan yang tidak kita syukuri, akan mengantarkan kita pada kegagalan berikutnya. Khalifa ali bin abu thalib menggambarkan bahwa kesalahan yang membuat kita sadar itu jauh lebih bermanfaat ketimbang keberhasilan yang membuat kita lupa diri.